SKRIPSI

ASPEK HUKUM

PENCEGAHAN KERUSAKAN LAPISAN OZON

 

Skripsi ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

Harry Katuuk

4587060394

 

 

 

FAKULTAS HUKUM / ILMU-ILMU HUKUM

UNIVERSITAS 45 MAKASSAR

30  Nopember  2010

 

PERSETUJUAN PEMBIMBING

 

Diterangkan bahwa Mahasiswa tersebut di bawah ini :

 

N  a  m  a                                           : Harry Katuuk

Nomor Pokok                                    : 4587060394

Program Studi                                  : Ilmu – Ilmu Hukum

M I n a t                                              : Hukum Internasional

Nomor Pendaftaran Judul             : A.260/FH/U-45/II/2009

Tanggal Pendaftaran Judul           : 22 Pebruari 2010

Judul Skripsi                                     : Aspek Hukum Pencegahan

Kerusakan    Lapisan Ozon

 

Telah diperiksa dan diperbaiki untuk dimajukan dalam ujian Skripsi  Mahasiswa Program Strata Satu (S1)

Makassar,       Nopember   2010

 

Pembimbing I                                                       Pembimbing II

 

 

Yulia A Hasan, SH., MH Abd. Haris Hamid, SH., MH

 

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu-Ilmu Hukum

Dekan Fakultas Hukum

 

 

Dr. Baso Madiong SH., MH

 

PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

Pimpinan Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar memberikan persetujuan kepada :

 

N  a  m  a                                           : Harry Katuuk

Nomor Pokok                                    : 4587060394

Program Studi                                  : Ilmu – Ilmu Hukum

M I n a t                                              : Hukum Internasional

Nomor Pendaftaran Judul             : A.260/FH/U-45/II/2009

Tanggal Pendaftaran Judul           : 22 Pebruari 2010

Judul Skripsi                                     : Aspek Hukum  Pencegahan

Kerusakan    Lapisan Ozon

 

Telah diperiksa dan diperbaiki untuk dimajukan dalam ujian proposal mahasiswa Program Strata Satu (S1)

 

Makassar,         Nopember   2010

 

Ketua Program Studi Ilmu-Ilmu Hukum

Dekan Fakultas Hukum

 

 

 

Dr. Baso Madiong, SH., MH

 

HALAMAN PENERIMAAN DAN PENGESAHAN

Untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Program Studi Ilmu-ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas “45” Makassar, dan berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas “45” Makassar Nomor:      /FH/U-45/XI/2010     tanggal        November 2010 tentang Panitia Ujian Skripsi, maka pada hari ini,  Selasa,  30  Nopember 2010, skripsi ini diterima dan disahkan setelah dipertahankan oleh HARRY KATUUK Nomor Stambuk 4587060394 dihadapan Panitia Ujian Skripsi yang terdiri atas:

Pengawas Umum

Rektor Universitas 45 Makassar

 

Prof. Dr. H. Abu Hamid

Panitia Ujian

Ketua,                                                                                    Sekretaris

 

Abd. Haris Hamid, SH., MH.                                      Andi Tira, SH., MH

Tim Penguji

Ketua             : DR. Baso Madiong , SH., MH (…………………………)

Anggota         : 1. Abd. Haris Hamid, SH., MH (…………………………)

2. Fadli Andi Natsif  , SH., MH (…………………………)

3. Yulia A. Hasan, SH., MH (…………………………)

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkatNya-lah sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Aspek Hukum Pencegahan Kerusakan Lapisan Ozon”. Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar.

Penulis menyadari sebagai manusia biasa tentunya pada penulisan skripsi ini banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik  sehingga penulisannya lebih baik lagi.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada:

  1. Bapak Prof. Dr. H. Abu Hamid selaku Rektor Universitas 45 Makassar.
  2. Bapak Abd. Haris Hamid, SH., MH., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar dan sekaligus sebagai pembimbing II. Dan Ibu Yulia A. Hasan, SH., MH., sebagai Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan hingga penulisan ini dapat diselesaikan.
  3. Segenap Dosen di lingkungan Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar, yang telah sudi berbagi ilmu dengan penulis selama duduk di bangku kuliah, serta seluruh staf dan karyawan yang telah memberikan pelayanan dengan baik, terutama Sdr. Patta Haji, SH.
  4. Bapak Ridwan D Tamin, MS(R) Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi, Maluku dan Papua (SUMAPAPUA) dan Ibu Asnidar (Kepala Sub Bid. Pengendalian Kerusakan Lingkungan)  yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengumpulkan data wawancara sebagai bahan penulisan skripsi ini.

 

Tak lupa kepada Istri (Agnes Sutarnio, SH,MH)  dan anak-anak (David, Maya, Rosaly, Heiner serta  Friets) dan kepada  Opa Heintje Katuuk dan Oma Ros Kalempouw di Kauditan – Tonsea – Manado yang senantiasa mendorong agar penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar yang perkuliahannya sempat penulis ikuti  sejak tahun 1987.

Akhir kata penulis harapkan mudah-mudahan skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu-ilmu Hukum.

Makassar,      Nopember 2010

 

Penulis.

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I             : Jenis Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) yang dilarang di   Impor

 

LAMPIRAN II            : Jenis Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) yang

impornya  diperkenankan sampai dengan 31 Desember  2007

 

LAMPIRAN III           : Jenis Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) yang Impornya  Masih tetap diperkenankan sampai dengan 31 Desember 2007

 

LAMPIRAN IV           : Keterangan telah melakukan penelitian di Kantor Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Sumapapua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

HALAMAN JUDUL  …………………………………………………………..           i

 

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING       ……………………….           ii

 

HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI    ………………..……..            iii

 

HALAMAN PENERIMAAN DAN PENGESAHAN         ………………            iv

 

KATA PENGANTAR           ……………………………………………….           v

 

DAFTAR LAMPIRAN          ……………………………………………….           vii

 

DAFTAR ISI  ………………………………………………………………..          viii

 

BAB 1             PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah   …………………………….     1

 

1.2    Rumusan Masalah   ……………………………………   10

 

1.3    Tujuan dan Kegunaan Penelitian   …………………..   10

 

  1. Tujuan Penelitian   ………………………………..    10

 

  1. Kegunaan Penelitian   …………………………..      10

 

1.4       Metode Penelitian   …………………………………..      10

 

  1. Lokasi Penelitian   ……………………………….     10

 

  1. Jenis dan Sumber Data   ………………………….   11

 

  1. Teknik Pengumpulan Data     ………………….       11

 

  1. Analisis Data      …………………………………        12

 

 

 

BAB  2           TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Lingkungan Hidup         ………………..          13

 

2.2 Pengertian Lapisan Ozon                 ………………..          18

 

2.3 Pengertian Kerusakan Lapisan Ozon         ………..          20

 

2.4 Pencegahan Perusakan Lapisan Ozon     ………..          26

 

2.5 Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum

 

Nasional dalam Konteks Perjanjian Internasional…       29

 

2.6 Prinsip Hukum Pencemaran Lapisan Ozon          ..          33

 

2.7 Akibat Kerusakan Lapisan Ozon                 ………..          38

 

 

BAB   3          PEMBAHASAN

 

3.1     Implementasi Konvensi Wina  (1985)       ………            41

 

3.2    Implementasi Protokol Montreal  (1987)     ……….           44

 

3.3    Regulasi dalam Hukum Nasional   ……………….           50

 

 

BAB   4          PENUTUP

 

4.1  Kesimpulan       ………………………………………            63

 

4.2  Saran      ………………………………………………            63

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 

 

 

BAB  1

P E N D A H U L U A N

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh manusia  untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik.  Oleh karena itu, inti pokok dari pembangunan adalah agar kehidupan di hari depan lebih baik  dari hari ini .  Namun demikian,  harus diakui bahwa pembangunan akan selalu bersentuhan dengan lingkungan, sehingga hakikat pembangunan adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang sejalan dengan pelestarian lingkungan hidup.

Hal tersebut sejalan dengan makna yang tercantum dalam Pasal 28 H Undang Undang Dasar 1945 bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.  Karena menyangkut hak hidup maka Pasal 28 H UUD 1945 tersebut bersentuhan dengan hak asasi manusia, dalam arti lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia, sehingga kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun akan mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten.  Untuk itu maka negara, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indoinesia serta makhluk hidup lain.

Berdasarkan pada Pasal 28 H UUD 1945 tersebut maka untuk lebih menjamin kepastian hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem, maka Undang-Undang No.4 Tahun 1982 yang hanya mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sudah sangat ketinggalan sehingga diganti dengan Undang Undang Nomor 23 Tahun 1997 yang di dalam perjalanan waktu (sekitar 12 tahun) semakin ketinggalan pula mengikuti perkembangan jaman,  apalagi setelah UUD 1945 diamandemen untuk yang keempat kalinya pada tanggal 18 Agustus 2002 maka Undang Undang 23 Tahun 1997 dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kata “perlindungan” tepat ditambahkan dalam judul Undang Undang No. 32 Tahun 2009  sebagai konsistensi terhadap pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Lingkungan hidup sesungguhnya memerlukan perlindungan nyata bukan hanya bagi bangsa Indonesia tetapi perlindungan nyata dari seluruh masyarakat internasional. Kepedulian ini akan menjadi kerangka acuan bagi negara-negara untuk berkomitmen bagaimana melindungi lingkungan hidup terlebih bagaimana melindungi lapisan ozon agar tidak semakin tercemar dan rusak.

Perhatian Pemerintah Indonesia terhadap lingkungan hidup mengikuti perkembangan lingkungan hidup dunia, bukan saja pengelolaan tetapi aspek perlindungan lingkungan hidup merupakan aspek yang tidak dapat diabaikan sebagai perpanjangan tangan dari Pasal 33 (ayat 4) UUD 1945 bahwa dalam rangka pembangunan ekonomi maka perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Posisi silang negara Indonesia yaitu terletak pada dua benua (Asia dan Australia) dan terletak pula pada dua samudera (Pasifik dan Indonesia) dengan iklim tropis, cuaca serta musim yang menggambarkan kondisi alam yang bernilai tinggi. Di samping itu kekayaan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam perlu mendapatkan perlindungan  dan seyogianya dikelola dalam suatu sistem perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang terpadu dan terintegrasi antara wilayah lingkungan laut, darat dan udara berdasarkan Wawasan Nusantara.

Dalam konteks dunia, pembangunan di Indonesia akan sangat berkaitan dengan pembangunan yang sifatnya menyeluruh, artinya pembangunan akan melanda semua negara atau mengglobal.  Dikatakan mengglobal karena bumi yang hanya satu ini merupakan kesatuan ekologis yang dikenal dengan  ekosistem dunia. Ekosistem dunia  mengisyaratkan akan adanya hubungan sebab akibat  antara satu negara dengan negara lain. Dengan demikian apabila suatu negara mengalami kemajuan pembangunan maka kemajuan tersebut akan  ikut melanda negara lain, sebaliknya apabila suatu negara mengalami masalah dengan lingkungan maka masalah lingkungan itu akan mengganggu negara lain yang menjadi bagian dalam suatu ekosistem dunia sebagai suatu lingkungan hidup global.

Lingkungan hidup global merupakan refleksi dari masyarakat internasional terhadap terjadinya kerusakan atau pencemaran lingkungan yang melanda dunia akibat adanya pembangunan. Berbagai media  menyebutkan akan adanya 5 faktor pokok  penyebab terjadinya masalah dalam lingkungan global yaitu pencemaran lingkungan, kemajuan industrialisasi, pertumbuhan penduduk yang cepat, kekurangan pangan yang meluas, dan kerusakan sumber daya alam yang tak terbaharui.

Dampak  dari pelaksanaan pembangunan telah dirasakan secara global sehingga kelima masalah tersebut harus segera ditangani agar dampak negatifnya tidak semakin meluas yang akan mengganggu   lingkungan di suatu negara.  Masalah pencemaran lingkungan (seperti misalnya kebakaran hutan) dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang tertimpa oleh pencemaran tersebut, tetapi juga pada negara tetangganya. Hal ini dapat dilihat di Indonesia yang setiap tahunnya terjadi kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan  yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia.

Berkaitan dengan masalah pencemaran tersebut di atas, saat ini dunia dilanda oleh kecemasan akan kerusakan lingkungan yang lebih meluas yang mungkin dampaknya akan dirasakan oleh semua negara, oleh semua lapisan masyarakat yaitu kerusakan lapisan ozon yang sudah semakin parah dan dengan kerusakan itu dirasakan akan adanya suatu ancaman kepunahan lingkungan hidup. Dengan adanya kesadaran untuk mengatasi ancaman atas kerusakan lapisan ozon, maka negara-negara berkomitmen untuk melakukan tindakan untuk mengatasi masalah pencemaran lapisan ozon ini. Dampak yang telah dirasakan oleh negara-negara adalah adanya pemanasan bumi yang semakin meningkat, akibatnya tidak ada satu negarapun yang luput dari dampak ini. Pemanasan global menjadi isu hangat yang senantiasa harus dipikirkan untuk bagaimana  mengatasinya, karena dengan pemanasan global akan mengakibatkan   terjadinya  perubahan iklim., yaitu suatu perubahan iklim di bumi yang secara tidak normal akan mempengaruhi komunitas lingkungan hidup yang berada di dalamnya.

Dengan demikian maka pencemaran  lapisan ozon menjadi isu hukum global oleh masyarakat internasional.

Isu hukum global yang dimaksud, adalah pertama  akan meliputi kepastian hukum. Ketentuan-ketentuan hukum internasional tentang pencemaran lapisan ozon harus jelas, negara  yang terlibat dalam konvensi dan secara konsekuen tunduk dalam asas pacta sunt servanda yaitu perjanjian yang disepakati harus dilaksanakan tanpa pengecualian. Oleh karena itu harus ada upaya konkret yang dilakukan  untuk menanggulangi pencemaran, siapa yang bertanggung jawab dan  apa sanksi hukum terhadap  pencemar. Kedua, harus ada manfaat  yang diperoleh terhadap perjanjian internasional dan kebijakan negara  untuk menentukan akan perlunya konperensi diadakan, kemudian melahirkan konvensi yang memerlukan ratifikasi oleh pemerintah negara. Ketiga, konvensi-konvensi itu harus memenuhi rasa keadilan negara peserta konperensi. Apakah konvensi membebani kewajiban-kewajiban negara  untuk memenuhi isi konvensi sedangkan hak rakyat terabaikan, misalnya kewajiban untuk memadamkan hot spot di wilayah Kalimantan agar dapat mengurangi kebakaran hutan yang menurut negara lain (Malaysia) merugikan negaranya, namun di sisi lain negara peserta konperensi tidak membantu baik pemikiran, dana dan  teknologi untuk mengatasi masalah tersebut.

Dengan berpedoman pada tujuan hukum di atas, maka kesadaran hukum masyarakat internasional ini kemudian dikonkretkan dalam suatu peraturan perundang-undangan nasional sebagai konsekuensi atas persetujuan negara untuk tunduk dalam kesepakatan / perjanjian yang dibuatnya. Misalnya Deklarasi Stockholm 1972, walaupun awalnya tidak membuahkan hasil yang maksimal tetapi Deklarasi Stockholm ini  telah menjadi pilar akan adanya kesadaran masyarakat internasional untuk menanggulangi kerusakan lingkungan hidup dunia. Upaya masyarkat internasional setelah Deklarasi Stockholm diwujudkan dalam Konvensi Wina (1985) tentang perlindungan lapisan ozon. Konvensi Wina ini lahir karena adanya penelitian ilmiah tentang dugaan adanya penurunan kualitas lapisan ozon sebagai partikel O3 yang melindungi bumi dari radiasi matahari. Oleh karena itu nagara peserta konvensi menginginkan agar lapisan ozon dibuatkan aturan perlindungan demi keselamatan dan eksistensi makhluk hidup di bumi yang memang hanya satu ini.

Selanjutnya negara-negara peserta konvensi menginginkan agar zat-zat perusak lapisan ozon dilarang penggunaannya dengan tenggat waktu tertentu sesuai kesepakatan. Atas keinginan itu maka lahirlah Protokol Montreal (1987). Protokol Montreal ini secara nyata dan tegas mencantumkan zat-zat apa saja yang merusak lapisan ozon yang dilarang penggunaannya, bahkan dilarang untuk diproduksi lagi.

Selanjutnya Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)  berinisiatif menyelenggarakan konperensi  di Rio de Janeiro  tahun 1992 di mana deklarasi Rio de Janeiro pada dokumen yang ke 4 secara tegas menjabarkan tentang pengurangan emisi gas-gas yang menyebabkan terjadinya pencemaran ozon.  Kemudian pada tahun 1997 diadakan konperensi internasional di Kyoto Jepang yang secara spesifik membahas tentang perubahan iklim dan bagaimana cara menanggulanginya. Kemudian  Konperensi Johannesburg, Afrika Selatan 2002 mengagendakan tentang perubahan iklim dan penanganan bencana.

Konvensi-konvensi internasional tersebut  untuk dapat efektif  disepakati sebagai suatu perjanjian internasional maka  terlebih dahulu harus diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  untuk menjadi undang-undang.

Indonesia sebagai negara yang memiliki luas hutan tropis terbesar di dunia dengan kesadaran dan demi kepentingan bersama meratifikasi Konvensi  Wina 7 tahun setelah disahkan di Wina melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992. Protokol Montreal (1987) disahkan melalui Keputusan presiden Nomor 92 Tahun 1998 (yaitu 11 tahun setelah Protokol itu diterima di Montreal).

Pada pembahasan sebelumnya penulis mengatakan bahwa kerusakan lapisan ozon secara struktural menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Semula masalah perubahan ikllim ini masih menjadi pertentangan, menjadi perdebatan,   apakah benar akan terjadi ?. Kalaupun terjadi hanya  perubahan iklim yang   akan melanda daerah-daerah kutub, sedang daerah lain tidak akan merasakan dampaknya. Namun  dalam kenyataannya iklim di muka bumi ini semakin hangat ,  akhirnya isu perubahan iklim  menjadi pembicaraan global, pembicaraan yang semakin meluas, bukan hanya pembicaraan para ahli lingkungan tetapi menjadi pembicaraan dalam pertemuan  negara-negara di dunia. Berbagai konperensi secara khusus diadakan untuk membicarakan dan membahas  konperensi tersebut yang menghasilkan konvensi untuk mengatasi, menanggulangi pemanasan global yang  mengakibatkan perubahan iklim.

Secara teoritis, sesungguhnya perubahan iklim itu terjadi karena adanya pencemaran lapisan ozon, yaitu suatu lapisan alamiah yang melingkupi bumi untuk menangkal zarah-zarah kosmik matahari, yang kemudian lapisan tersebut mengalami kerusakan atau kebocoran-kebocoran yang mengakibatkan zarah kosmik tidak lagi tersaring di lapisan ini tetapi tembus langsung ke permukaan bumi. Akibatnya, bila zarah kosmik menimpa kutub maka es di kutub akan mencair. Kemungkinan lain zarah kosmik akan menjadi biangnya pemanasan dunia, seperti rumah kaca.

Sampai pada akhir tahun 1970-an, pencemaran lapisan ozon, perubahan iklim dan pemanasan global hanya diperdebatkan di kalangan ilmuan. Masyarakat umum belum mempunyai perhatian terhadap masalah ini, karena itu tadi,  apakah benar akan terjadi ?. Tetapi,   seiring dengan perkembangan jaman, dengan kemajuan teknologi telah  banyak ditemukan petunjuk tentang terjadinya masalah lingkungan ini. Temuan-temuan akan terjadi kerusakan ozon mulai dibahas sebagai masalah internasional yang melibatkan bukan saja ilmuwan, tetapi melibatkan pula pakar-pakar hukum internasional untuk membahas akibat hukum bagi negara yang tidak mentaati kesepakatan internasional melalui perjanjian-perjanjian internasional yang dihasilkan melalui konperensi internasional.

Namun demikian apakah masalah pencemaran lapisan ozon ini juga dimengerti, dipahami atau diketahui oleh masyarakat Indonesia ?. Ini merupakan masalah bagi penulis dalam membahas skripsi ini. Secara nasional Indonesia telah mengakui akan melakukan upaya-upaya untuk menanggulangi masalah pencemaran lapisan ozon melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku.  Untuk itu maka perlu diketahui  bagaimana pengimplementasian konvensi-konvensi  internasional dalam Hukum Nasional guna mengatasi atau mengurangi masalah pencemaran dan kerusakan lapisan ozon.

Sehubungan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian  dengan judul  “ Aspek Hukum  Pencegahan Kerusakan  Lapisan Ozon”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam skripsi ini adalah  bagaimanakah konvensi-konvensi internasional menyangkut perlindungan lapisan ozon diimplementasikan dalam hukum nasional ?

1.3 Tujuan dan Kegunaan

  1. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui sampai sejauhmana konvensi internasional diterapkan dalam sistem hukum Indonesia
  2. Kegunaan Penelitian adalah :
    1. Diharapkan akan dapat menjadi bahan informasi untuk mengetahui  pengimplementasian konvensi internasional dalam hukum nasional Indonesia.
    2. Diharapkan akan dapat menjadi bahan masukan/referensi dan akan menambah wawasan ilmu khususnya dalam pengembangan Ilmu Hukum Internasional pada Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar.

1.4 Metode Penelitian

  1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Makassar , khususnya di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi, Maluku dan Papua. Lokasi  penelitian ini menurut hemat penulis berada dalam Kota Makassar sehingga akan memudahkan untuk pengumpulan data.

Berhubung karena luasnya wilayah kerja instansi PPLH Regional Sumapapua maka penulis membatasi objek penelitian hanya pada wilayah Kota Makassar saja.

  1. Jenis dan Sumber Data
    1. Data Primer

Data Primer dalam penelitian ini adalah data yang penulis  dapatkan dari hasil wawancara dengan pejabat terkait di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi, Maluku dan Papua. Secara teknis wawancara akan dilakukan kepada Pimpinan Kantor serta beberapa pejabat yang mengetahui tentang pencemaran lapisan ozon

  1. Data Sekunder, adalah data yang diperoleh melalui berbagai laporan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi, Maluku dan Papua  literatur-literatur, peraturan perundang-undang   yang berkaitan dengan judul penelitian
  2. Teknik Pengumpulan Data
    1. Penelitian Kepustakaan

Penelitian Kepustakaan dilakukan dengan cara membaca materi yang berkaitan kemudian materi tersebut dijadikan dasar pembahasan dalam rangka pemecahan masalah

  1. Penelitian Lapangan

Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer dari hasil wawancara dengan pejabat terkait.

  1. Analisis Data

Data yang  diperoleh baik dari kepustakaan dan hasil wawancara kemudian diolah  dan  dibahas sebagai alternatif pemecahan masalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Lingkungan Hidup

Masalah lingkungan hidup sesungguhnya sudah lama dikenal dalam kehidupan manusia. Misalnya di Indonesia yang sebagian besar penduduknya hidup di pedesaan senantiasa akrab dengan lingkungannya. Apabila kemudian jumlah penduduk semakin bertambah maka berbagai kebutuhan hidup akan dipenuhi dengan menggunakan teknologi (Salim, 1986:ix) maka masuklah unsur-unsur yang mengubah pola hidup yang mengakibatkan munculnya pemikiran bahwa lingkungan hidup itu sangat diperlukan untuk menopang pola hidup tersebut.

Namun dalam sejarahnya perkembangan lingkungan hidup tidak terlepas dari lahirnya minat dan gagasan pemikir dunia untuk menanggapi masalah lingkungan hidup secara global yang saat ini memasuki dasawarsa yang keempat setelah berlalunya dasarwarsa ketiga (1982-1992). Perhatian terhadap masalah lingkungan mulai mendapat perhatian yang serius sejak dilangsungkannya “United Nations Conference on the Human Environment” di Stockholm, Swedia pada tanggal 5-16 Juni 1972. Konperensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini merupakan usul dari pemerintah Swedia dalam sidang ECOSOC tanggal 28 Mei 1968. Hasilnya Konvensi Stockholm yang mencetuskan “Declaration on the Human Environment” beserta 109 Rekomendasi. Konvensi ini dapat dikatakan sebagai pembuka dasawarsa lingkungan (Danusaputro, 1985:33 dan Abdurrahman, 1986:1).

Setelah berlangsung sekitar 10 tahun mulai dari konperensi Stockholm, maka pemerintah Indonesia dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menetapkan Undang Undang  Nomor 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang Undang ini disempurnakan melalui Undang Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dan terakhir Undang Undang lingkungan hidup disempurnakan melalui Undang Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disingkat UU PPLH)

Pada Pasal 1 butir 1 UU PPLH yang dimaksud dengan Lingkungan Hidup adalah:

Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

 

Salim (1985:34) mengatakan bahwa lingkungan hidup secara umum diartikan sebagai segala benda, kondisi keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Sedangkan Danusaputro (1985:67) mengatakan:

Lingkungan atau secara lebih lengkap lingkungan hidup dapat diterangkan sebagai semua benda dan daya serta kondisi, termasuk di dalamnya manusia dan tingkah perbuatannya, yang terdapat dalam ruang di mana manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad-jasad hidup lainnya.

 

Bernard (Siahaan, 2004:13-14) membagi lingkungan atas empat macam, yakni:

1)    Lingkungan fisik atau anorganik, yaitu lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisiografis seperti tanah, udara, laut, radiasi, gaya tarik, ombak dan sebagainya.

2)    Lingkungan biologi atau organik yaitu segala sesuatu yang bersifat biotis berupa mikroorganisme, parasit, hewan, tumbuh-tumbuhan. Termasuk juga di sini lingkungan prenatal dan proses-proses biologi seperti reproduksi, pertumbuhan dan sebagainya.

3)    Lingkungan sosial. Ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian:

  1. Lingkungan fisiososial, yaitu yang meliputi kebudayaan materil, peralatan, senjata, mesin, gedung-gedung dan lain-lain.
  2. Lingkungan biososial manusia dan bukan manusia, yaitu manusia dan interaksinya terhadap sesamanya dan tumbuhan serta hewan domestik dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber organik.
  3. Lingkungan psikososial, yaitu yang berhubungan dengan tabiat batin manusia seperti sikap, pandangan, keinginan, keyakinan. Hal ini terlihat melalui kebiasaan, agama, ideologi, bahasa dan lain-lain.

4)    Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga-lembaga masyarakat, baik yang terdapat di daerah kota atau desa.

 

Sedangkan menurut Amsyari (1986:11-12) lingkungan tersebut dikategorikan dalam tiga kelompok dasar yang menonjol, yakni:

  1. Lingkungan fisik (Physical environment) adalah segala sesuatu di sekitar kita yang berbentuk benda mati seperti rumah, kendaraan, gunung, udara, sinar matahari dan lain-lain yang semacamnya.
  2. Lingkungan biologis (Biological environment) adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berupa organisme hidup selain dari manusianya itu sendiri. Misalnya segala binatang-binatang, tumbuhan, jasad renik (plankton) dan lain-lain.
  3. Lingkungan sosial (Social environment) adalah manusia-manusia lain yang berada di sekitarnya seperti tetangga, teman dan lain-lain.

 

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas, penulis cenderung sepaham dengan pendapat Siahaan (2004:15) yang mengacu pada esensi Undang Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup yang cenderung  mengelompokkan lingkungan hidup terdiri atas lingkungan hidup berupa benda-benda dan daya (energy), lingkungan biologi, lingkungan sosial dan lingkungan institusional. Pengelompokan ini sudah tertuang dalam pengertian lingkungan hidup sesuai Pasal 1, butir 1 UU PPLH No. 32 Tahun 2009.

Lebih lanjut, Abdurrahman (1986:9) mengemukakan argumen bahwa berdasarkan pengertian-pengertian lingkungan hidup yang telah dikemukakan di atas memberikan gambaran bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai hubungan secara timbal balik dengan lingkungan hidupnya. Manusia secara pribadi maupun sebagai kelompok masyarakat selalu berinteraksi dengan lingkungan di mana ia hidup sehingga berbagai aktivitas manusia akan selalu mempengaruhi lingkungannya, akibatnya apabila terjadi perubahan lingkungan maka perubahan itu secara otomatis memberikan warna dalam berbagai perikehidupan manusia.

Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya membentuk suatu sistem yang dikenal dengan istilah ecosystem. Dalam Pasal 1 butir 5 UU PPLH pengertian ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Ekosistem berasal dari kata oikos dan system. Oikos berarti rumah (kemudian diartikan sebagai rumah tangga, bandingkan dengan ilmu ekonomi sebagai ilmu rumah tangga). Sedangkan system adalah suatu kesatuan yang teratur dan terpadu antara keseluruhan bagian-bagiannya (Siahaan, 2004:20). Oleh karena itu, dalam konteks kenegaraan maka ekosistem Negara Republik Indonesia adalah seperti yang tertuang dalam penjelasan UU PPLH bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terletak pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang  menghasilkan kondisi alam yang tinggi nilainya. Di samping itu, Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan jumlah penduduk yang besar. Indonesia mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam yang melimpah.  Kekayaan itu perlu dilindungi dan dikelola dalam suatu sistem perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang terpadu dan terintegrasi antara lingkungan laut, darat dan udara berdasarkan wawasan Nusantara.

Untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup Indonesia tersebut maka diperlukan payung hukum yaitu UU PPLH. Pada waktu lahirnya Undang Undang Nomor 4 Tahun 1982, banyak pakar menyebut Undang Undang itu sebagai “Undang Undang Payung” (Supriadi, 2006:32) yang artinya bahwa Undang Undang ini merupakan payung bagi lahirnya aturan-aturan hukum menyangkut perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

2.2 Pengertian Lapisan Ozon

Atmosfer bumi terdiri atas beberapa lapisan yaitu berturut-turut dari bawah ke atas yaitu troposfer, stratosfer, mesosfer dan termosfer (mesosfer dan termosfer dikenal juga sebagai lapisan ionosfer).

Menurut Soemarwoto (1991:251) troposfer adalah lapisan atmosfer terendah yang tebalnya kira-kira 10 km di atas permukaan bumi. Dalam troposfer ini, makin tinggi dari permukaan bumi, makin rendahlah suhu dengan penurunan antara 0,5o C dan 1,0o Celcius. Penurunan suhu ini disebabkan karena adanya penyinaran kembali energi matahari oleh permukaan bumi dalam bentuk sinar inframerah, sedangkan atmosfer transparan terhadap sinar matahari. Strastosfer ialah lapisan atmosfer kedua yang tebalnya kira-kira 10 km sampai 60 km di atas permukaan bumi. Batas antara troposfer dan stratosfer yaitu tropo-pause. Lapisan ozon adalah suatu lapisan yang terletak di lapisan atmosfer (di atas tropo-pause) sekitar 20 – 45 kilo meter di atas permukaan bumi. Lapisan ini mengandung molekul-molekul ozon. Lapisan ini dapat menyerap radiasi ultra violet yang dipancarkan matahari. Pada lapisan ini ozon terbentuk dan terurai melalui keseimbangan dinamis dalam arti lapisan ini akan menggumpal pada keadaan tertentu dan mengurai pada keadaan tertentu pula. Lapisan ini secara teoritis dikatakan menggumpal dalam arti bahwa pembentukan ozon di atmosfer sangat intensif sehingga dapat menyerap radiasi matahari. Dikatakan dalam keadaan tertentu lapisan ini mengurai karena molekul-molekul ozon terurai menjadi oksigen yang akibatnya radiasi tidak tersaring di lapisan ini.

Wikipedia (http://commons.wikipedia.org) menguraikan bahwa ozon terdiri dari tiga molekul oksigen yang secara alamiah ozon dihasilkan melalui pencampuran cahaya ultra violet dengan atmosfer bumi kemudian membentuk suatu lapisan yang melindungi bumi dari radiasi matahari. Dalam berbagai literatur, ozon dalam ilmu kimia diberi symbol O3. Menurut Soemarwoto (1991:251-252) ozon ini dikatakan ozon “baik” karena ia melindungi makhluk hidup dari radiasi matahari. Ozon di dalam troposfer, walaupun susunan kimianya sama dengan ozon di stratosfer, mempunyai efek lain terhadap bumi. Ozon di troposfer bersifat racun dan merupakan salah satu gas rumah kaca. Karena itu ozon ini merupakan ozon “buruk”. Di dalam stratosfer ozon terbentuk secara alamiah dari molekul oksigen (O2) melalui reaksi fotokimia yaitu reaksi kimia yang menggunakan cahaya sebagai sumber energinya yang besar sehingga secara alamiah pula atom oksigen tunggal (O) akan menyatu pada O2 sehingga berubah menjadi molekul O3, setelah berfotokimia dengan energi yang kecil maka ozon akan pecah mengurai  menjadi O2 dan O tunggal. Begitu seterusnya ozon berfotokimia.

Lapisan ozon terbentuk dalam keadaan seimbang, energi yang mempengaruhinya juga seimbang sehingga kadar ozon terdapat dalam keseimbangan yang dinamik. Kedua reaksi kimia itu secara efektif dapat menghalangi sinar ultra violet ekstrim untuk sampai ke bumi. Inilah mekanisme alam yang melindungi bumi dari penyinaran ultra violet bergelombang pendek yang berbahaya bagi kehidupan. Kedua reaksi itu juga merupakan sebab naiknya suhu di dalam atmosfer dibandingkan dengan di troposfer.

2.3 Pengertian Kerusakan Lapisan Ozon

Dengan mengacu pada UU PPLH Pasal 1 butir 17 dikatakan bahwa kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Pengertian ini menjadi landasan pemahaman bahwa sesungguhnya lapisan ozon itu sudah rusak, namun kerusakan yang dialaminya masih dalam batas baku kerusakan, artinya hanya pada daerah tertentu saja di dunia yaitu Antartika yang mengalami kerusakan dalam bentuk terjadinya kebocoran ozon (lubang ozon).

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa ozon yang terbentuk secara alamiah tinggal  di stratosfer  pada ketinggian 12 sampai 25 km sebagai lapisan yang menyelimuti bumi. Oleh karena ozon berasal dari oksigen, maka kalau tidak ada oksigen maka tidak mungkin ada ozon. Artinya apabila gelombang pendek menerpa bumi akibatnya maka radiasi matahari akan merusak lingkungan hidup dipermukaan bumi. Lapisan ozon secara keseluruhan dalam keadaan dinamis namun pada wilayah di lapisan ozon tertentu akan terkoyak akibat gas pencemar, akibatnya terjadilah lubang ozon.

Soemarwoto (1991:255-256) mengemukakan tentang lubang ozon yang untuk pertama kalinya dikenal sebagai masalah besar dalam lingkungan hidup dunia sebagai berikut :

Dalam tahun 1985, Farman dan kawan-kawan yang merupakan anggota tim peneliti Antartika Inggris mengumumkan, antara tahun 1977 sampai 1984 kadar ozon di stasiun penelitian mereka di Halley Bay, Antartika, telah turun dengan drastis.  Penurunan ini terjadi pada bulan Oktober, yaitu musim semi di Antartika pada waktu matahari mulai terbit lagi setelah sepanjang musim dingin tak ada matahari. Menurut catatan mereka pada tahun 1950 dan pertengahan 1970-an kadar ozon itu berkisar sekitar 300 unit Dobson (satu unit Dobson ialah seperseratus millimeter tebal lapisan ozon pada suhu dan tekanan standar, yaitu 0o C dan tekanan udara 1 atm) yaitu setebal 3 mm, akan tetapi pada bulan Oktober 1978  kadar itu turun menjadi hanya 125 unit Dobson.

Inilah awalnya ilmuan mengetahui bahwa telah terjadi kerusakan lapisan ozon yang mengakibatkan terjadinya lubang ozon. Lubang ozon terjadi karena molekul O3 terurai menjadi O dan O bebas. Dengan adanya lubang ozon maka akan semakin bertambah radiasi matahari menembus bumi. Kerusakan lapisan ozon ini menjadi isu global hingga saat ini.

Harus diakui bahwa dengan kemajuan teknologi saat ini di abad ke XXI para ahli kimia dapat memproduksi ozon sebagai zat kimia untuk kemaslahatan umat manusia. Ozon diproduksi sebagai gas yang dapat digunakan dalam bidang pengobatan perawatan kulit, dan dapat pula digunakan untuk industri misalnya (Wikipedia:http://commons.wikipedia.org) :

  1. Mengenyahkan kuman dari minuman sebelum dibotolkan (antiseptik)
  2. Menjernihkan air dari pencemaran besi, arsen, hydrogen sulfide, nitrit dan bahan organik yang dikenal sebagai pewarna
  3. Membantu proses penggabungan molekul untuk membantu menghilangkan zat besi dan arsenik
  4. Mencuci dan memutihkan kain
  5. Menjadi zat pembantu untuk mewarnai plastik
  6. Membantu keawetan dan ketahanan getah karet, dll

Selanjutnya muncul penelitian yang dilakukan oleh Molina dan Rowland pada tahun 1973 (Soemarwoto,1991:257) yang mengumumkan temuan mereka bahwa segolongan zat kimia yang disebut clouroflourocarbon (disingkat CFC) berpengaruh sangat besar terhadap perusakan ozon. Berdasarkan temuan itu maka perusak lapisan ozon adalah gas kimia tertentu yaitu Clouroflourocarbons yang diproduksi di bumi kemudian menguap ke angkasa dan merusak molekul ozon, merusak lapisannya sehingga memungkinkan radiasi matahari menembus permukaan bumi.

Untuk menjelaskan Clouroflourocarbons ini penulis mengutip pendapat Soemarwoto (1991: 257 – 262) sebagai berikut :

  1. Cloroflourocarbon (CFC) ialah zat kimia yang terdiri atas tiga jenis unsur, yaitu Clor (C), Fluor (F) dan Carbon (C).
  2. Selain Clouroflourocarbons ada juga segolongan zat kimia lain yang merusak ozon yaitu halon.
  3. Clouroflourocarbons bukan merupakan gas alamiah, tetapi adalah suatu bahan kimia buatan manusia. Sekali Clouroflourocarbons berada di atmosfer, maka ia akan tetap ada di sana hingga rusaknya yang diperkirakan dalam kurun waktu antara 50-200 tahun.
  4. Gas Clouroflourocarbons sendiri tidak berbahaya bagi manusia, karena tidak beracun, tidak mudah terbakar dan stabil serta berguna bagi industri seperti Air Conditioning (AC), sebagai alat pendingin pada lemari es, AC mobil, berguna dalam pembuatan plastik busa dan sebagai pendorong pada kemasan aerosol misalnya aerosol parfum, hairspray, deodorant, zat pembersih kaca dan racun hama. Pada bidang elektronika Clouroflourocarbons dapat digunakan untuk membersihkan permukaan mikrochip.
  5. Halon digunakan sebagai pendorong dalam alat pemadam kebakaran, dan karena tidak merusak peralatan, halon sangat disukai untuk digunakan dalam ruang komputer, museum dan tempat penyimpanan barang berharga di bank
  6. Berdasarkan kegunaannya itu maka tingkat penggunaan Clouroflourocarbons dari tahun ketahun meningkat sehingga emisi gas tersebut di atmosfer mengalami peningkatan pula. Kondisi ini pada gilirannya menyebabkan atmosfer tercemar dan menyebabkan lubang pada lapisan ozon.

Untuk membuktikan bahwa sesungguhnya ozon itu sudah rusak maka Soemarwoto (1991:266-271) mengemukan tiga teori tentang mekanisme perusakan lapisan ozon :

 

 

 

2.3.1 Teori Kimia

Diawali dengan penelitian yang dilakukan oleh tim internasional yang disebut Airborne Antartic Ozone Experiment yang berpangkalan di Punta Arenas di Chili.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam musim dingin daerah lubang ozon dibatasi oleh pusaran angin pada lintang selatan 60o dan ternyata pada  ketinggian 14-24 km  terdapat kerusakan lapisan ozon. Kadar Clouroflourocarbons rendah dan CIO (Clormonoksid) yang tinggi yang menunjukkan bahwa Clormonoksid terjadi karena perubahan Clouroflourocarbons sehingga disimpulkan bahwa Clormonoksid -lah yang merusak lapisan ozon, dalam arti karena Clormonoksid berasal dari Clouroflourocarbons maka biang perusak adalah Clouroflourocarbons.

2.3.2 Teori Daur Aktivitas matahari

Menurut teori ini, penurunan kadar ozon  disebabkan oleh memuncaknya aktivitas matahari yang menyebabkan terbentuknya oksida nitrogen. Namun teori ini gugur karena aktivitas matahari tidak konstan, hanya terjadi pada saat tertentu, pada era sekarang aktivitas matahari normal sehingga tidak terjadi perusakan lapisan ozon karenanya.

2.3.3 Teori Dinamik

Teori ini didasarkan pada dinamika arus angin yang menyebabkan perubahan sistem distribusi ozon. Karena ozon terbentuk karena proses fotokimia yaitu penyinaran dengan sinar Ultra Violet berenergi tinggi, kadar ozon tertinggi seharusnya terdapat di daerah dengan penyinaran yang kuat, yaitu di stratosfer. Tetapi kenyataannya, kadar ozon yang tinggi tidak terdapat di katulistiwa melainkan didekat kutub. Hal ini disebabkan karena udara stratosfer bersirkulasi dari lapisan tinggi di tropik ke lapisan yang lebih rendah di daerah kutub.

Teori ini juga tidak dapat diterima, sehingga satu-satunya teori yang dianggap dapat membuktikan adanya kerusakan lapisan ozon adalah teori kimia.

Berdasarkan teori tersebut, dapat diketahui bahwa terjadinya kerusakan lapisan ozon akan berkaitan dengan pengertian kerusakan lingkungan hidup seperti bunyi Pasal 1 butir 17 UU PPLH bahwa kerusakan lingkungan hidup merupakan perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.  Untuk itu maka kerusakan lapisan ozon dapat disebabkan oleh alam dan oleh manusia (Erwin, 2008:48). Oleh alam, ialah kerusakan karena terpaan sinar ultraviolet matahari, dan oleh manusia karena pelepasan gas pencemar (Clouroflourocarbons). Apabila tidak ditanggulangi maka manusia sebagai subjek pencemar  melepaskan CFC dapat dikatakan sebagai perusakan lingkungan hidup.

Dikatakan sebagai perusak lingkungan hidup karena menurut Pasal 1 butir 16 UU PPLH adanya  tindakan manusia yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan kimia dari lapisan ozon, lubang ozon adalah bukti adanya tindakan langsung melalui pelepasan Clouroflourocarbons di atmosfer. Hal ini seyogianya harus dicegah.

2.4  Pencegahan Perusakan Lapisan Ozon

Seperti telah dikemukakan bahwa isi aktual sampai saat ini yang mencemaskan masyarakat adalah pencemaran lapisan ozon. Pencemaran ini disebabkan oleh gas pencemar yang dibuat dan digunakan untuk kepentingan manusia. Tanpa disadari gas tersebut memiliki sifat pencemar karena menurunnya fungsi lapisan ozon sebagai pelindung (perisai) kehidupan di biosfer terhadap lolosnya gelombang sinar ultraviolet. Penyebab utamanya adalah emisi Clouroflourocarbons, gas yang umum digunakan sebagai refrigeren (Soedomo, 2001:35). Di lapisan troposfer ozon “buruk” semakin bertambah banyak karena adanya kegiatan refrigeren di bumi yang melepaskan Clouroflourocarbons ke udara, akibatnya muncul masalah baru yaitu terjadinya daur panas yang melebihi ambang batas normal sehingga bumi mengalami pemanasan global.  Ozon “buruk” yang tidak dapat terhablur di udara tertahan di lapisan troposfer sehingga panas radiasi matahari tidak dapat keluar dan makin bertumpuk dan  membantu pemanasan global dalam bentuk Gas Rumah Kaca (GRK).

Dengan demikian semakin kompleks masalah pencemaran lapisan ozon, dan hampir semua negara mengalami hal demikian, termasuk Indonesia. Dan apabila mengacu pada Pasal 1 butir 14 UU PPLH maka yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan hidup adalah :

masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Sedangkan baku mutu lingkungan hidup (butir 13) adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.

 

Pencemaran lapisan ozon karena masuknya energi, zat tertentu yang menyebabkan turunnya baku mutu lingkungan, sehingga dalam pengertian pencemaran itu terkandung pemburukan (deterioration) yang semakin lama akan kian menghancurkan sehingga akhirnya dapat memusnahkan tiap sasaran yang mengalami pemburukan (Dirdjosisworo, 1991:7). Oleh karena itu perlu pencegahan untuk mengatasi pemburukan. Pencegahan harus dilakukan oleh negara, bangsa dan warganegara.

Pencegahan yang dimaksud adalah mengatur, membatasi bahkan melarang penggunaan zat  tertentu untuk memberikan jaminan kelestarian lingkungan hidup di masa depan.

Linda Starke (Hardjasoemantri,1995:69-70) dalam bukunya yang berjudul “Signs of Hope, Working toward Our Common Future” mengharapkan perlunya sikap dari para produsen dan konsumen terhadap penggunaan CFC. Para produsen harus mencari alternatif lain yang tidak membahayakan, seperti misalnya Du Pont, produsen Clouroflourocarbons terbesar di Amerika Serikat, yang menginvestasikan 25 juta dollar di Texas untuk memproduksi HCFC (hydroflourocarbons) -134a sebagai pengganti Clouroflourocarbons

Namun harus diakui bahwa keinginan untuk melakukan pencegahan penggunaan Clouroflourocarbons berawal dari keprihatinan masyarakat internasional setelah mengetahui adanya kerusakan lapisan ozon untuk mengadakan pertemuan yang membahas bagaimana perlindungan akan lapisan ozon agar kerusakannya dapat dicegah sedemikian rupa.

Secara internasional pencegahan itu dilakukan melalui perangkat aturan hukum yang dilahirkan melalui suatu konperensi internasional yang diselenggarakan oleh United Nation Enviromment Programme (UNEP). Adapun konperensi yang menyangkut pencegahan kerusakan lapisan Ozon dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Perjanjian Internasional yang ditandatangani oleh para pihak (28 negara)  pada tanggal 22 Maret 1985 yang dikenal dengan The Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer (Konvensi Vienna untuk Perlindungan Lapisan Ozon). Pada tahun 2001 telah 184 negara meratifikasi konvensi ini. Indonesia meratifikasi konvensi ini melalui Keputusan Presiden No. 23 tahun 1992.
  2. Protokol Montreal (lengkapnya The Montreal Protocol on Substances that Depelete the Ozone Layer) suatu traktat internasional yang dirancang untuk melindungi lapisan ozon dengan meniadakan produksi sejumlah zat yang diyakini bertanggung jawab atas tercemarnya lapisan ozon. Traktat ini terbuka untuk ditanda tangani pada tanggal 16 September 1987 dan berlaku sejak 1 Januari  1989.

Protokol Montreal ini telah diamandemen  di London (1990), Copenhagen (1992), Vienne (1995), Montreal (1997) dan terakhir diamandemen di Beijing (1999) dan diberlakukan dalam sistem hukum nasional Indonesia sesuai Keputusan Presiden Nomor 92 Tahun 1998.

Dalam hubungannya dengan lingkungan hidup dunia, dikenal pula beberapa konvensi yang berkaitan dengan Pemanasan Global, dan  Perubahan Iklim sebagai akibat (tetapi bukan satu-satunya akibat) pencemaran lapisan ozon. Pemanasan Global dan Perubahan iklim hanya selintas dibahas   untuk mempersempit ruang lingkup penulisan skripsi. Sehingga penulis hanya menitik beratkan pada perlindungan lapisan ozon (Konvensi Vienna) dan pelarangan zat-zat perusak lapisan ozon (Protokol Montreal)  seperti yang telah dikemukakan di atas.

2.5 Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional dalam Konteks Perjanjian Internasional

Hal yang perlu mendapat penjelasan dalam penelitian ini adalah  mengapa Konvensi Wina dan Protokol Montreal itu diratifikasi atau disahkan berlakunya di Indonesia melalui Keputusan Presiden ?.

Mauna (2001:12) menguraikan hubungan hukum internasional dan hukum nasional dengan mengatakan bahwa ada 2 aliran pemikiran mengenai hubungan tersebut yaitu aliran monisme dan aliran dualisme.

 

Menurut pandangan monisme, semua hukum merupakan satu sistem kesatuan hukum yang mengikat apakah individu-individu dalam suatu negara ataupun terhadap negara-negara dalam masyarakat internasional. Sebaliknya aliran dualisme menganggap bahwa hukum internasional dan hukum nasional adalah dua sistem hukum yang terpisah, berbeda satu sama lain.

 

Menurut hemat penulis dengan dipatuhinya kaidah-kaidah hukum internasional oleh suatu negara adalah sesuatu yang wajar karena pembentukan perangkat hukumnya adalah atas dasar kehendak negara-negara secara bebas yang oleh Mauna (2001:13) dikatakan kaidah-kaidah hukum dirumuskan dalam berbagai  “instrumen yuridik  internasional”.  Hal ini berarti bahwa kedua sistem hukum itu mempunyai kekuatan hukum yang mengikat apakah mengikat individu atau mengikat negara. Oleh karena itu Mauna (2001:13) lebih lanjut mengatakan bahwa :

Menolak hukum internasional dapat berarti penolakan terhadap apa yang telah dikehendaki dan diputuskan bersama oleh negara-negara untuk mencapai tujuan bersama. Penolakan terhadap hukum internasional adalah tidak mungkin, kerena dalam prakteknya semua tindak tanduk negara  dalam hubungan luar negerinya berpedoman dan didasarkan atas asas-asas serta ketentuan yang terdapat dalam hukum internasional itu sendiri.

 

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, salah satu instrumen yuridik internasional adalah perjanjian internasional. Sebagai upaya Negara Republik Indonesia  untuk memberlakukan hukum internasional dalam suasana nasional maka diterbitkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Undang-undang ini secara nyata mengakomodir ketentuan internasiooanl menjadi ketentuan hukum nasional yang sifatnya mengikat negara.

Pasal 4 ayat (1) secara nyata mengatakan bahwa Pemerintah RI membuat perjanjian dengan subjek hukum internasional didasarkan pada kesepakatan dan dilaksanakan dengan itikad baik.  Lebih lanjut kaidah hukum tersebut  diimplementasikan sebagai suatu kesatuan antara  hukum internasional dan hukum nasional yang tertuang dalam Pasal 4 ayat (2) yaitu bahwa dalam pembuatan perjanjian internasional, Pemerintah Republik Indonesia harus berpedoman pada kepentingan nasional dan berdasarkan pula pada prinsip-prinsip persamaan kedudukan, saling menguntungkan, dan memperhatikan, baik hukum nasional maupun hukum internasional.

Dikatakan di atas bahwa kaidah hukum internasional itu mengikat negara dan dapat diimplementasikan dalam suasana nasional apabila kaidah hukum internasional itu telah disahkan (diratifikasi) oleh pemerintah dalam hal ini Presiden sebagai Kepala Pemerintahan Negara adalah seperti yang tercantum dalam  Pasal 11 ayat (1) UU Nomor 24 Tahun 2000, bahwa “Pengesahan perjanjian internasional ……. Dilakukan dengan Keputusan Presiden”. Pada penjelasan UU Nomor 24 tersebut disebutkan bahwa pengesahan perjanjian melalui Keputusan Presiden dilakukan atas :

… perjanjian yang mensyaratkan adanya pengesahan sebelum memulai berlakunya perjanjian, tetapi memiliki materi yang bersifat prosedural dan memerlukan penerapan dalam waktu singkat tanpa mempengaruhi peraturan perundang-undangan nasional. Jenis-jenis perjanjian yang termasuk dalam kategori ini, diantaranya adalah perjanjian induk yang menyangkut kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, teknik, perdagangan, kebudayaan, pelayaran niaga, penghindaran pajak berganda, dan kerjasama perlindungan penanaman modal, serta perjanjian-perjanjian yang bersifat teknis.

 

Memang ada pengesahan perjanjian internasional melalui undang-undang. Namun dalam konteks Konvensi Wina dan Protokol Montreal menyangkut lapisan ozon secara nasional telah berlaku di Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992 dan Keputusan Presiden Nomor 92 Tahun 1998.

Dengan demikian maka tepatlah jika Konvensi Wina dan Protokol Montreal tersebut diratifikasi dengan Keputusan Presiden sesuai Pasal 11 ayat (1)  UU Nomor 24 tahun 2000 karena sifat ozon berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (penelitian adanya kerusakan/ pencemaran dan upaya penanggulangannya), ekonomi (menyangkut memproduksi, mendistribusikan zat perusak lapisan ozon serta pemasarannya), teknik (menyangkut rekayasa zat tertentu menjadi sarana pendorong gas yang dipergunakan sehari-hari, termasuk mengkompresi udara pendingin) dan menyangkut kegiatan  perdagangan zat tersebut guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Zat perusak lapisan ozon tidak beracun dan tidak berbahaya bagi manusia tetapi mempunyai dampak luas terhadap rusaknya molekul ozon di stratosfer yang pada akhirnya akan menyebabkan perubahan stuktur planet bumi. Dengan Keputusan Presiden diharapkan pencegahan kerusakan akan dapat dilakukan secara maksimal.

2.6 Prinsip Hukum  Pencemaran Lapisan Ozon

Pada saat ini kerusakan pada lapisan ozon mungkin tidak dapat dikembalikan lagi seperti keadaan semula dan perlahan-lahan namun pasti kerusakan itu akan mencapai seluruh lingkungan hidup masyarakat internasional. Negara harus bertanggung jawab akibat yang ditimbulkan karena kerusakan lapisan ozon.

Isu kota Jakarta dan kota-kota lainnya yang sejajar dengan permukaan laut dikatakan akan tenggelam merupakan isu yang saat ini hangat diperdebatkan. Penulis pada tanggal 12 Oktober 2010 menyaksikan film yang berjudul “……………..” berdurasi 150 menit yang menggambarkan upaya Al Gore (mantan Wakil Presiden AS) mengungkap secara ilmiah kehancuran bumi pada suatu saat mendatang. Obsesi AL Gore ini mengantarkannya memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2007.

Al Gore menayangkan bagaimana mekanisme kerusakan ozon, bagaimana perubahan struktur ozon yang kemudian rapuh tertembus sinar matahari, akibatnya kebocoran ozon menjadi wahana mencairnya kutub selatan. Itu yang disebutnya kedaruratan planet bumi. Al Gore mengatakan kita membuang 70 juta ton polusi pemanasan global yang menabrak atmosfer di mana ozon berada, seakan-akan atmosfer itu sebagai suatu tempat pembuangan limbah terbuka, dan besok membuangnya, membuangnya sehingga konsentrasi limbah memerangkap makin banyak panas dari matahari. Al Gore juga menyitir kata-kata Winston Churchil yang mengatakan bahwa “Mereka (pemerintahan negara-penulis) melangkah dalam paradox yang aneh, memutuskan untuk tidak mengambil keputusan, mencari solusi untuk tidak menemukan solusi, tegas tetapi tanpa arah yang jelas, begitu berkuasa tetapi tak berdaya. (Terjemahan bebas E. Halawa tentang Kuliah Nobel Perdamaian Al Gore, Oslo 10 Desember 2007)

Pidato Nobel Perdamaian Al Gore tanggal 10 Desember 2007 di Oslo itu mengisyaratkan akan kekuasaan pemerintahan Negara yang sesungguhnya harus berbuat mengatasi masalah lingkungan hidup. Pattileuw (2001:17) mengutip Sylvia Maureen Williams yang mengatakan bahwa negara akan bertanggungjawab erga omnes terhadap kerusakan lingkungan, namun kebutuhan untuk menaksir kerusakan dan kewajiban untuk memulihkan kepada keadaan semula menjadi lebih rumit. Meskipun demikian upaya penanggulangannya tetap dilakukan oleh negara melalui berbagai pertemuan oleh masyarakat internasional, yang intinya negara harus bertanggungjawab.

Oleh karena itu apabila menginginkan perlindungan terhadap lapisan ozon maka negara harus mematuhi ketentuan internasional yang dilahirkan untuk ditaati tanpa pengecualiannya (pacta sunt servanda). Apakah karena pidato Al Gore atau ada faktor lain, saat ini masalah tersebut acapkali dibahas diberbagai kesempatan, misalnya saja konvensi-konvensi  internasional  di Bali pada tahun 2007 di mana konferensi tersebut menghasilkan keputusan-keputusan yang akan menjadi jalan untuk mencapai konsensus baru lebih lanjut pada 2009 di Kopenhagen, Denmark sebagai pengganti Protokol Kyoto fase pertama yang berakhir pada tahun 2012 mendatang. Keputusan – keputusan tersebut dikenal sebagai peta jalan Bali (Bali road map) yang lebih menekankan akan terwujudnya pembatasan emisi kolektif karbon sampai tahun 2012 sesuai Protokol Kyoto.

Konferensi selanjutnya adalah konferensi di Kopenhagen – Denmark, 7-18 Desember 2009 yang menghasilkan Kopenhagen Accord namun hingga akhir pertemuan terjadi negosiasi buntu di mana 120 Kepala Pemerintahan tidak mencapai kata sepakat untuk mengatasi pemanasan global, sehingga Kopenhagen Accord tidak mengikat secara hukum (legally binding) seperti harapan berbagai negara (Kompas, 20 Desember 2009).

Pertemuan Earth Summit di New York September 2010 merupakan upaya yang senantiasa dilakukan negara untuk mengatasi pemanasan global, sebagai akibat kerusakan lapisan ozon. Konvensi Wina 1992 mengisyaratkan untuk melarang negara-negara untuk memperbolehkan wilayahnya digunakan  sedemikian rupa sehingga dapat merugikan hak-hak negara lain.

Aspek hukum pencemaran lapisan ozon, karena melibatkan negara maka perlu diketahui akan prinsip-prinsip tanggung jawab negara seperti yang dikemukakan oleh Schwarzenberg dalam Pattileuw (2001:17) yang mengatakan bahwa prinsip tanggung jawab negara harus menghindari akan adanya “penyalahgunaan hak” (abuse of rights) dan prinsip bertetangga baik (good neighbourliness). Apabila negara dengan sengaja menggunakan  Clouroflourocarbons, aerosol atau zat-zat pencemar lainnya demi kepentingan negara kemudian membiarkan terjadinya kerusakan lapisan ozon maka negara tersebut dikatakan menyalahgunakan hak. Demikian pula apabila negara membiarkan pencemaran yang terjadi di negaranya kemudian zat-zat pencemar itu terbawa angin menuju ke negara tetangga maka akibat hukumnya adalah negara dinilai mengabaikan prinsip bertetangga yang baik. Namun demikian sangat sulit untuk dapat menetapkankan kapan suatu hak yang sah sudah dilangkahi, sehingga Schwarzenberg dalam Pattileuw (2001:18) berpendapat bahwa perusakan lapisan ozon karena pencemaran Clouroflourocarbons merupakan masalah “ state liability for injurious concequences of acts not prohibited by international law”. Tanggungjawab negara merupakan konsekuensi nyata yang tidak boleh bertentangan dengan hukum internasional.

Negara harus membatasi diri dalam penggunaan zat-zat berbahaya yang dapat merusak lapisan ozon  karena ozon merupakan milik seluruh umat manusia (common our province heritage) oleh karena itu lapisan ozon harus mendapatkan perlindungan dari negara melalui kebijakan-kebijakan negara dengan cara mengimplementasikan komitmen internasional sebagai komitmen bersama dari negara yang sederajat dan beradab.   Komitmen yang dimaksud dapat dilihat pada prinsip-prinsip hukum yang tertuang dalam Deklarasi Stockholm 1972 yaitu  :

  1. Prinsip ke 6 tentang penghentian pelepasan zat-zat beracun dalam konsentrasi yang melampaui daya dukung lingkungan untuk menjamin bahwa tidak terjadi kerusakan-kerusakan parah atau yang tidak dapat dipulihkan untuk memperbaiki kualitas hidup.
  2. Prinsip ke 21 yang mengakui hak negara-negara untuk mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan alamnya menurut hukum internasional dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas ini  tidak akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan negara lain  atau daerah di luar yurisdiksi negara mereka. Menurut Pattileuw (2001:19) Konvensi Wina Tahun 1985 tentang Perlindungan Lapisan Ozon telah memasukkan Prinsip 21 yang dikatakan prinsip “sic utere tou” ini yang kemudian mengalami perkembangan luas bahwa tangung jawab pelaku pencemar tidak lagi terbatas pada hak-hak yang sudah mendapat perlindungan hukum (the legally protected rights of the claimant states).
  3. Prinsip ke 22 menerangkan pada kebutuhan negara-negara untuk bekerjasama mengembangkan lebih lanjut hukum internasional tentang kewajiban dan kompensasi terhadap korban-korban polusi dan pengrusakan lingkungan lainnya di luar wilayah suatu negara yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan dalam yurisdiksi negara tertentu.

`     Menyangkut tindakan represif apabila ada negara yang melakukan pelanggaran maka sesuai Lampiran II Konvensi Wina menyangkut pertukaran informasi (information exchange) dikatakan bahwa pelanggaran terhadap konvensi akan dikenakan tindakan administratif sesuai undang-undang nasional negara yang bersangkutan. Sedangkan pada Artikel 5 butir 6  Protokol Montreal tindakan represif yang diisyaratkan adalah :

Setiap pihak dapat sewaktu-waktu memberitahukan kepada Sekretariat dalam bentuk tulisan, akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan ternyata tidak bisa menjalankan sebagian atau semua kewajiban-kewajiban dalam artikel 2A sampai 2E. Sekretariat kemudian harus menyampaikan pemberitahuan kepada para pihak, untuk mempertimbangkan langkah-langkah untuk menghadapi pertemuan berikutnya.

 

Dengan demikian, tindakan represif terhadap tidak ditaatinya konvensi dan protokol hanya bersifat administratif, dan apabila telah dilaporkan secara tertulis kepada Sekretariat, maka Sekretariat akan menindaklanjutinya pada pertemuan berikutnya.

2.7 Akibat Kerusakan Lapisan Ozon

Menurut Suparmoko (2008: 303-326) antara lain mengatakan bahwa akibat kerusakan lapisan Ozon adalah sebagai berikut:

1.  Gas rumah kaca

Energi dari radiasi sinar matahari yang menembus lapisan Ozon mengenai bumi, kemudian sebagian dipantulkan kembali sehingga mempenetrasi atmosfer dan sebagian menghangatkan permukaan bumi. Radiasi sinar inframerah yang dikeluarkan oleh bumi akan dapat mendinginkan suhu di bumi. Tetapi tetapi sebagian dari sinar inframerah itu terperangkap oleh gas rumah kaca di dalam atmosfer yang bertindak sebagai selimut, akibatnya membuat bumi tetap hangat atau panas dan ini yang dikenal dengan efek rumah kaca.

  1. Pemanasan global

Peristiwa efek rumah kaca yang menyebabkan bumi menjadi hangat. Namun akibat aktivitas manusia, terutama proses industri dan transportasi menyebabkan gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer terus meningkat. Akibatnya radiasi yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke luar angkasa terhambat dan menyebabkan terjadinya akumulasi panas di atmosfer, demikian pula suhu rata-rata di seluruh permukaaan bumi meningkat. Dengan demikian terjadilah pemanasan global. Dengan adanya pemanasan global akan terjadi mencairnya es di kutub, pergeseran musim, peningkatan permukaan air laut dan lain-lain.

3.  Perubahan iklim (Global Warming)

Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menimbulkan perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya mengubah pola iklim dunia sehingga terjadilah perubahan iklim. Perubahan iklim itu terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang, antara 50-100 tahun. Walau terjadi secara perlahan, perubahan iklim akan menjadikan sebagian besar wilayah di dunia menjadi semakin panas sementara bagian lainnya menjadi semakin dingin.

Konsekuensi dari perubahan iklim ini secara ilmiah akan berkaitan dengan prinsip-prinsip hukum internasional. Permukaan air laut naik, maka air laut akan menutupi pulau-pulau, sehingga sehingga negara akan kesulitan untuk mengetahui secara nyata batas-batas teritorialnya, dan masalah ini selanjutnya akan semakin pelik apabila muncul klaim-klaim wilayah laut dari negara lain. Oleh karena itu pembuktian otentik akan garis batas teritorial negara harus dinyatakan dalam pemetaan yang secara bilateral atau multilateral disepakati melalui perjanjian internasional. Untuk itu dokumen peta udara tentang wilayah teritorial negara sangat penting artinya dalam mengatasi batas wilayah negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  3

PEMBAHASAN

3.1  Implementasi Konvensi Wina 1985

Konvensi Wina Tahun 1985 tentang Perlindungan Lapisan Ozon dihasilkan oleh 28 negara yang mengikuti konvensi tersebut pada tanggal 22 Maret 1985 di Wina, Austria. Konvensi ini  terdiri atas Pembukaan, 21 Pasal dan 2 Lampiran. Indonesia telah meratifikasi konvensi Wina itu melalui Keputusan Presiden Nomor 23  Tahun 1992 yang diundangkan dalam Lembaran Negara pada tanggal 13 Mei 1992 di Jakarta.

Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992 menyebutkan bahwa lapisan ozon sangat bermanfaat bagi perlindungan kehidupan di bumi karena dapat melestarikan lingkungan hidup, dapat melindungi kesehatan manusia, dan dapat pula melindungi kehidupan hewan dan tumbuh-tumbuhan, serta dapat mencegah kerusakan atas benda-benda berharga dan bersejarah. Bahwa perusakan dan penipisan lapisan ozon yang disebabkan oleh zat-zat perusak lapisan ozon (ozone depeleting substances) akan sangat membahayakan kelestarian kehidupan di bumi. Untuk itu Negara Indonesia sebagai anggota masyarakat internasional memandang perlu untuk ikut secara aktif di dalam berbagai kegiatan bersama di kalangan masyarakat internasional yang bertujuan untuk mencegah perusakan dan penipisan lapisan ozon.

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka Pemerintah Indonesia mengesahkan Vienna Convention for the Ozone Layer dan Montreal Protocol on subtanced that depeleted the Ozone Layer as Adjusted and Amanded by the Second Meeting on the Parties London, 27-29 June 1990 yang masing-masing telah diterima di Wina, Austria pada tanggal 22 Maret 1985 dan di Montreal, Kanada pada tanggal 16 September 1987.

Konvensi Wina 1985 untuk Perlindungan Lapisan Ozon sesungguhnya mengacu pada ketentuan-ketentuan yang relevan dari Deklarasi Konperensi Peserikatan  Bangsa Bangsa  tentang Lingkungan Hidup Manusia yang melahirkan Konvensi Stockholm Tahun 1972 yang dalam Prinsip 21 mengatakan bahwa “ Negara-negara sesuai dengan Piagam PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional, mempunyai hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber daya mereka sendiri sesuai dengan kebijakan lingkungan mereka sendiri, negara bertanggungjawab untuk memastikan bahwa kegiatan dalam yurisdiksi mereka dapat terkontrol dengan tidak menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan negara lain atau kawasan di luar batas yurisdiksi nasional”.

Menurut Konvensi Wina 1985 kewajiban umum seperti tersebut pada Pasal 2 menyatakan:

  1. Para pihak harus mengambil langkah yang tepat sesuai ketentuan konvensi di mana para pihak harus melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup terhadap efek samping yang dihasilkan atau mungkin efek samping dari hasil kegiatan merekayasa zat-zat perusak lapisan ozon.
  2. Oleh karena itu para pihak wajib, sesuai dengan sarana dan kemampuan mereka untuk:

1)    melakukan pengamatan secara sistematis, melakukan penelitian dan pertukaran informasi dalam rangka untuk lebih memahami dan menilai dampak dari kegitan manusia terhadap kerusakan lapisan ozon.

2)    mengambil langkah-langkah pengawasan atau tindakan administratif sesuai dengan program kerjasama dalam menyelaraskan kebijakan yang tepat untuk mengendalikan, membatasi, mengurangi atau mencegah kegiatan manusia di wilayah yurisdiksi mereka atau pengendalian itu dilakukan untuk mencegah efek samping yang dihasilkan dari memodifikasi lapisan ozon.

3)    merumuskan langkah-langkah dan prosedur standar sebagai implementasi Konvensi Wina.

4)    bekerjasama dengan badan-badan internasional yang berkompeten untuk melaksanakan konvensi secara efektif.

Konvensi Wina 1985 juga mengatur tentang kerjasama di bidang hukum dan  kerjasama ilmiah. Menyangkut dengan kerjasama di bidang hukum para pihak terlebih dahulu memfasilitasi informasi teknis seperti yang tersebut pada lampiran 2 Konvensi Wina di mana sangat diperlukan pengumpulan berbagai informasi sehingga negara dapat melakukan tindakan secara tepat dan adil. Berdasarkan informasi tersebut, maka para pihak di dalam mengimplementasikan Konvensi Wina harus konsisten dengan hukum nasionalnya misalnya menyangkut  peraturan dan praktek mengenai hak paten, rahasia dagang dan perlindungan rahasia dari kepemilikan informasi yang menyangkut perlindungan terhadap lapisan ozon.

Kemudian, pada lampiran 2, disebutkan bahwa para pihak di dalam mengimplementasikan Konvensi Wina sangat memerlukan informasi mengenai peraturan undang-undang nasional dan tindakan-tindakan administratif serta perlindungan hukum menyangkut penelitian ilmiah yang relevan terhadap perlindungan lapisan ozon. Sangat diperlukan pula perjanjian internasional termasuk perjanjian bilateral serta ketentuan-ketentuan perizinan penggunaan bahan perusak lapisan ozon sehingga konvensi ini dapat diimplementasikan sebagai upaya negara melindungi pencemaran atau kerusakan lapisan ozon.

3.2   Implementasi Protokol Montreal 1987

Indonesia melalui Keputusan Presiden RI Nomor 92 Tahun 1998 telah mengesahkan Montreal Protocol On Substances That Deplete The Ozone Layer, 1987.

Pada tahun 1985 seperti yang telah dikemukakan di atas, negara-negara secara nyata mengimplementasikan Konvensi Wina yang tertuang di dalam Protokol Montreal 1987. Dalam protokol ini secara khusus dibicarakan tentang partikel-partikel atau zat-zat yang dapat merusak lapisan ozon.

Dua pertemuan yang diadakan oleh para pihak dari Konvensi Wina yaitu pada tahun1989 dan 1991 dan empat pertemuan para pihak Protokol Montreal yang diadakan setiap tahun dari tahun 1989 sampai dengan 1992 telah menghasikan keputusan-keputusan yang sangat penting bukan hanya perlindungan terhadap lapisan ozon tetapi pengurangan tingkat produksi dan konsumsi dari zat-zat yang dapat merusak lapisan ozon. Dengan lahirnya Protokol Montreal maka isi dari protokol itu mengikat seluruh pihak dan secara nyata mulai dilaksanakan pada tanggal 22 September 1993. Untuk itu, para pihak dari protokol harus memikirkan bagaimana kewajiban mereka sesuai konvensi tersebut untuk mengambil langkah yang tepat untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan sebagai akibat oleh kegiatan-kegiatan manusia yang mengubah struktur lapisan ozon. Oleh karena itu protokol mengadopsi tentang langkah-langkah yang diambil untuk melindungi lapisan ozon dari penipisan harus didasarkan pada penelitian ilmiah dengan mempertimbangkan hal-hal teknis dan ekonomis terhadap kondisi negara peserta konvensi dari protokol Montreal.

Protokol juga mengatur tentang diperlukannya zat-zat tertentu untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang termasuk ketetapan penambahan sumber-sumber dana dan akses teknologi yang relevan. Hal ini disebabkan karena kebutuhan dana bagi negara-negara berkembang akan jauh lebih besar penggunaannya untuk tujuan pencegahan terhadap kerusakan ozon dan efek-efek bahaya lainnya. Protokol Montreal terdiri atas dua puluh artikel dan empat lampirannya. Secara khusus pada artikel 2A sampai dengan 2H mengatur tentang penggunaan zat-zat yang berbahaya bagi lapisan ozon yaitu:

Artikel 2A:      Clouroflourocarbons

Setiap pihak harus memastikan bahwa mulai tanggal 1 Januari 1996 dan pada setiap periode dua belas bulan sesudahnya tingkat konsumsi Clouroflourocarbons tidak lebih dari nol. Setiap pihak yang memproduksi satu atau lebih dari bahan-bahan itu harus memastikan bahwa tingkat perhitungan produksi dari zat-zat tersebut tidak lebih dari nol. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar domestik tingkat produksinya dapat melebihi batas sampai dengan lima belas persen dari tingkat perhitungan produksinya pada tahun 1986. Artikel ini diberlakukan dengan aman pada pihak-pihak yang telah diizinkan di mana tingkat produksi dan konsumsi Clouroflourocarbons- nya telah disepakati.

Artikel 2B:      Halons

Setiap pihak harus memastikan bahwa periode dua belas bulan mulai 1 Januari 1994 dan setiap dua belas bulan sesudahnya tingkat konsumsi halon setiap tahunnya tidak melebihi nol. Negara yang memproduksi satu atau lebih dari zat ini harus memastikan bahwa tingkat produksi setiap tahunnya tidak melebihi nol. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar domestik tingkat perhitungan produksinya dapat melebihi limit sampai dengan lima belas persen bagi pihak-pihak yang telah diizinkan di mana tingkat produksi dan konsumsinya telah disepakati.

Artikel 2C:      Other fully halogenated Clouroflourocarbons

Setiap pihak harus memastikan bahwa mulai 1 Januari 1994 tingkat konsumsi setiap tahunnya tidak lebih dari dua puluh lima persen dan mulai 1 Januari 1996 tingkat konsumsi setiap tahunnya tidak melebihi nol.

Artikel 2D:      Carbon tetrachloride

Mulai 1 Januari 1996 tingkat konsumsi tidak lebih dari nol. Bagi setiap pihak yang memproduksi zat tersebut unbtuk periode yang sama, untuk memenuhi kebutuhan dasar domestik tingkat produksinya dapat melebihi batas sampai dengan lima belas persen dari tingkat produksi yang dihitung pada tahun 1989.

Artikel 2E:      Trichloroethane (Metyl chloroform)

Setiap pihak harus memastikan bahwa mulai tanggal 1 Januari 1996 dan setiap periode dua belas bulan sesudahnya tingkat konsumsi tidak lebih dari nol. Akan tetapi, untuk memenuhi kebutuhan dasar domestik tingkat produksi dapat melebihi batas sampai dengan lima belas persen.

Artikel 2F:      Hydrochlorofluorocarbons

Setiap pihak harus memastikan bahwa mulai tanggal 1 Januari 2004 tingkat konsumsi zat ini tidak melebihi enam puluh lima persen. Kemudian setiap pihak harus memastikan pula bahwa untuk periode dua belas bulan mulai 1 Januari 2010 pada setiap dua belas bulan sesudahnya tingkat konsumsi zat ini setiap tahunnya tidak melebihi tiga puluh lima persen. Dan mulai 1 Januari 2015 tidak lebih dari sepuluh persen, 1 Januari 2020 tingkat konsumsi tidak melebihi 0,5% dan pada 1 Januari 2030 tingkat konsumsi zat ini tidak melebihi nol.

Hydroclouroflourocarbons merupakan bahan alternatif sementara pengganti Clouroflourocarbons yang masih mengandung atom klorin harus diatur lebih lanjut produksi dan konsumsinya dalam Protokol Montreal. Menurut jadwal semula, negara artikel 5 atau negara berkembang harus melakukan pengendalian Hydroclouroflourocarbons mulai tahun 2015 dan menghapuskannya secara total pada tahun 2040.

Namun dalam Pertemuan Para Pihak ke-19 yang berlangsung pada bulan September Tahun 2007, para pihak bersepakat untuk mempercepat jadwal penghapusan Hydroclouroflourocarbons dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Baseline untuk negara Artikel 5 (negara berkembang) dihitung dari rata-rata tingkat konsumsi dan produksi Hydroclouroflourocarbons tahun 2009-2010.
  2. Pembekuan (freeze) produksi dan konsumsi Hydroclouroflourocarbons pada tingkat baseline bagi negara Artikel 5 berlaku mulai awal tahun 2013.
  3. Tahapan pengurangan Hydroclouroflourocarbons bagi negara Artikel 5 adalah sebagai berikut:

1)    Pengurangan 10% dari tingkat baseline pada tahun 2015

2)    Pengurangan 35% dari tingkat baseline pada tahun 2020

3)    Pengurangan 67,5% dari tingkat baseline pada tahun 2025

4)    Pengurangan 2,5% dari tingkat baseline pada periode tahun 2030-2040, hanya untuk memenuhi kebutuhan servis peralatan pendingin.

Negara Artikel 2 atau negara maju harus lebih dahulu melakukan pengendalian produksi dan konsumsi Hydroclouroflourocarbons dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Pengurangan 75% dari tingkat baseline pada tahun 2010
  2. Pengurangan 90% dari tingkat baseline pada tahun 2015
  3. Pengurangan 0,5% dari tingkat baseline pada periode 2020-2030, hanya untuk memenuhi kebutuhan servis peralatan pendingin

Artikel 2G:      Hydrobromofluorocarbons

Setiap pihak harus memastikan bahwa periode dua belas bulan mulai 1 Januari 1996 dan pada setiap dua belas bulan periode sesudahnya tingkat konsumsi tidak lebih dari nol.

Artikel 2H:      Methyl bromide

Mulai 1 Januari 1999 tingkat produksi tidak melebihi tingkat produksi pada tahun1991. Dan untuk memenuhi kebutuhan dasar domestik, tingkat produksi tidak melebihi sepuluh persen.

Demikian ketentuan artikel 2A sampai 2H. Namun dalam artikel empat paragraf lima pengendalian terhadap zat-zat perusak lapisan ozon tersebut secara tegas mengisyaratkan bahwa setiap pihak harus mengurangi ekspor zat-zat perusak lapisan ozon kepada yang bukan pihak dari protokol ini yaitu pada tanggal 1 Januari 1990 setiap pihak harus melarang impor zat-zat yang dikendalikan dari negara manapun yang bukan dari negara pihak dari protokol ini.

Sedangkan khusus bagi negara berkembang sejak tanggal berlakunya protokol ini atau kapan saja sesudah itu (dalam sepuluh tahun dari tanggal berlakunya protokol) sampai 1 Januari 1999 untuk memenuhi kebutuhan dasar domestik berhak memperlambat sepuluh tahun dalam memenuhi pengendalian terhadap artikel 2A sampai dengan 2E.

3.3  Regulasi dalam Hukum Nasional

Berdasarkan keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No:789/NPP/Kep/12/2002 tanggal 2 Desember 2002 dinyatakan bahwa Clouroflourocarbon (CFC) masih dibutuhkan penggunaannya bagi berbagai industri di Indonesia namun karena Indonesia yang telah meratifikasi Protokol Montreal maka Indonesia mempunyai kewajiban untuk menghapus penggunaan bahan perusak ozon khususnya kelompok Clouroflourocarbons sampai dengan 1 Januari 2010, maka sesuai Pasal 5B Kepmenperindag tersebut disebutkan bahwa sampai dengan  tanggal 31 Desember 2007 CFC masih diperkenankan untuk diimpor melalui importir terdaftar dan importir produsen. Yang dimaksud dengan importir terdaftar (IT- Clouroflourocarbons) adalah PT (Persero) Dharma Niaga, PT (Persero) Pantja Niaga, PT (Persero) Cipta Niaga.

Sesuai dengan hasil penelitian pada Kantor Pusat Pengelolaan  Lingkungan Hidup Regional Sumapapua (Sulawesi, Maluku dan Papua) yang terletak di Jalan Urip Sumohardjo Daya Makassar. Dan berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Asnidar (Kepala Subseksi Penanganan Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) pada tanggal 4 Mei 2010, persyaratan impor adalah sebagai berikut:

  1. Waktu pengapalan, jumlah dan jenis Clouroflourocarbons yang dapat diimpor ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Dirjen PLN).
  2. Untuk tiap kali pengimporan IT-CFC wajib mengajukan surat permohonan persetujuan impor kepada Dirjen PLN dengan melampirkan rekomendasi dari Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Kepala Badan POM) dan atau Direktur Jenderal Industri Kimia, Argo dan Hasil Hutan (Dirjen IKAHH).
  3. Pendistribusian Clouroflourocarbons oleh IT-CFC wajib dilaporkan secara tertulis kepada Dirjen PLN dengan tembusan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup, Kepala Badan POM, Dirjen IKAHH, selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah Clouroflourocarbons didistribusikan kepada pengguna akhir.

Berdasarkan peraturan Menteri Perdagangan RI No:24/M-DAG/PER/6/2006 tanggal 22 Juni 2006 tentang Ketentuan Impor Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) disebutkan dalam Pasal 2 bahwa BPO adalah bahan perusak lapisan ozon seperti yang tercantum di dalam lampiran I, II, dan III Peraturan Mendag RI Nomor 24  (Terlampir) yang diatur sebagai berikut:

  1. BPO sebagaimana tercantum dalam lampiran I  dilarang untuk diimpor, kecuali Karbon Tetrachlorida (CTC) untuk penggunaan laboratorium dan analisa.
  2. BPO hanya dapat diimpor dari negara-negara yang terdapat dalam daftar yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, oleh perusahaan yang mendapat pengakuan sebagai importir produsen BPO atau penunjukkan sebagai importir terdaftar BPO.
  3. Impor BPO hanya dapat dilakukan melalui pelabuhan-pelabuhan Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Merak (Cilegon), Pelabuhan Tanjung Mas (Semarang), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) dan Pelabuhan Soekarno-Hatta (Makassar).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Asnidar, Beliau  mengatakan bahwa program penanganan BPO oleh KLH Regional Sumapapua dilakukan dalam bentuk pembimbingan teknis terhadap Pemerintah Daerah (dalam penelitian ini khusus Kota Makassar) serta kegiatan-kegiatan pemantauan terhadap penggunaan zat-zat perusak lapisan ozon.

Menurut Ibu Asnidar bahwa Clouroflourocarbons saat ini masih digunakan pada sistem pendinginan kendaraan bermotor (mobil) yang diproduksi di bawah tahun 1995. Oleh karena itu, maka untuk memenuhi kebutuhan Clouroflourocarbons telah diberikan bantuan peralatan 3R (Recovery, Recycle dan Recharge) kepada beberapa bengkel AC mobil yang memenuhi persyaratan. Peralatan tersebut digunakan untuk me-recovery dan mendaur ulang Clouroflourocarbons sehingga tidak terlepas ke udara dan selanjutnya dapat digunakan kembali pada sistem pendinginan.

Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO)  seperti Clouroflourocarbons yang digunakan pada Air Conditioning (AC) mobil saat ini berpotensi untuk menimbulkan penipisan lapisan ozon apabila terlepas ke udara, hal ini biasa terjadi pada saat teknisi melakukan kegiatan service yang tidak menggunakan peralatan yang memadai yang dapat mengambil kembali BPO dari sistem pendinginan sehingga BPO langsung terbuang ke udara.

Menurut peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis dan Persyaratan Kompetensi Pelaksanaan Retrofit dan Recycle pada Sistem Refrigerasi disebutkan bahwa retrofit adalah proses penggantian jenis refrigeran suatu sistem pendingin kompresi uap yang diikuti dengan penyesuaian-penyesuaian dan atau penyetelan sistem yang diperlukan. Recycle atau daur ulang adalah proses peningkatan kemurnian refrigeran melalui proses fisika dengan jalan memisahkan minyak pelumas dan penyaringan refrigeran untuk digunakan kembali. Sedangkan recovery adalah proses pengambilan refrigeran (bahan yang digunakan untuk menghasilkan efek pendinginan dengan cara penguapan) dari dalam suatu sistem pendingin dan memindahkannya dalam suatu tabung.

Menurut Ibu Asnidar, Kementerian Lingkungan Hidup Regional Sulawesi Maluku dan Papua telah melakukan pemantauan dan pengawasan dan uji coba implementasi Peraturan Menteri LH Nomor 2 Tahun 2007 tersebut kepada beberapa bengkel AC mobil penerima bantuan alat hibah mesin “3R” di kota Makassar dan kota Manado pada tahun 2009. Namun demikian pihak Lingkungan Hidup Regional Sumapapua belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan bengkel AC karena peraturan tersebut baru efektif berlaku tahun 2009 sehingga sampai 2010 ini masih dilakukan sosialisasi di kota Makassar. Dalam kesempatan lain, menurut Ibu Asnidar, pihak Kementerian Lingkungan Hidup Regional Sumapapua menemukan beberapa tabung refrigeran R134a di mana isi dan tabungnya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam arti Clouroflourocarbons yang didaur ulang dan telah tersimpan di dalam tabung untuk dipindahkan ke AC mobil ternyata isinya tidak sesuai.

Menurut Peraturan Menteri Negara LH Nomor 02 Tahun 2007 Pasal 3 disebutkan bahwa sebelum dilakukan retrofit, maka bengkel wajib melakukan pengkajian atau verifikasi terhadap sistem refrigerasi sesuai dengan:

  1. SNI 06-6500-2000 refrigeran yaitu pemakaian pada instalasi tetap, atau
  2. SNI 06-6501.1-2000 refrigeran yang menyangkut keamanan pengisian, penyimpanan dan transportasi, dan
  3. SNI 06-6501.2-2000 refrigeran bagi pemakaian pada mesin tata udara kendaraan bermotor.

Yang jelas pelaksanaan retrofit wajib memenuhi standar yang dibutuhkan agar tidak melepas refrigerant jenis Clouroflourocarbons dan Hydroclouroflourocarbons ke atmosfer. Pada Pasal 4 Peraturan Menteri Negara LH Nomor 02 Tahun 2007 juga menyebutkan tentang kewajiban yang dilakukan setelah melakukan proses recycle yaitu pencatatan dalam buku log dengan mencantumkan informasi mengenai jenis dan jumlah refrigeran yang direcycle, penanganan keadaan khusus, tanggal pelaksanaan recycle dan nama teknisi yang melakukan recycle.

Pada tanggal 14 November 2008 Menteri Perindustrian RI mengeluarkan peraturan Nomor 86/M-IND/PER/11/2008 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan dan Tata Cara Pengawasan Penggunaan Logo Non Clouroflourocarbons (CFC) dan Non Halon. Yang dimaksud dengan barang yang tidak menggunakan bahan perusak lapisan ozon (BPO) meliputi:

  1. Barang atau produk yang tidak menggunakan bahan Clouroflourocarbons (CFC).
  2. Barang yang tidak menggunakan bahan halon dan CFC.

Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa sesuai Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 33/M-IND/PER/4/2007 tentang Larangan Memproduksi Bahan Perusak Lapisan Ozon serta Memproduksi Barang yang Menggunakan Bahan Perusak Lapisan Ozon. Produk-produk yang tidak menggunakan Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) diwajibkan untuk menggunakan Logo Non CFC atau Non Halon & Non CFC dengan maksud dan tujuan untuk memberikan kesamaan, kemudahan dan kelancaran dalam penggunaan logo yang diharapkan dunia industri dapat melaksanakan kewajiban dalam penggunaan logo tersebut di atas sehingga kemudian masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam program perlindungan lapisan ozon dengan memilih produk-produk yang tidak menyebabkan kerusakan lapisan ozon.

Pembubuhan Logo Non CFC dan Non Halon & Non CFC dibubuhkan pada produk atau setiap kemasan sedemikian rupa sehingga mudah dilihat oleh pembeli atau pemakai. Pencantuman logo harus dicetak permanen dan ditempel pada produk dan atau kemasannya sehingga tidak  mudah lepas atau hilang. Apabila logo tidak memungkinkan ditampilkan pada produk atau kemasan maka logo tersebut dapat ditampilkan pada media lain seperti brosur atau leaflet. Pengawasan penggunaan logo dilakukan terhadap produk-produk sebagai berikut:

  1. Mesin pengatur suhu udara (AC) yang digunakan dalam ruangan dan kendaraan bermotor.
  2. Lemari es tipe rumah tangga.
  3. Alat pemadam api.
  4. Produk busa.
  5. Mesin pendingin termasuk cold storage, chiller, show case, refrigerated continer, dll).
  6. Produk aerosol untuk industri.
  7. Produk rokok dan produk lainnya yang berpotensi menggunakan BPO.

Implementasi dari penggunaan logo menurut Ibu Asnidar yaitu pada awal tahun 2010 Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan kerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sulawesi Selatan menyangkut kerjasama mensosialisasikan tata cara penggunaan logo kepada masyarakat utamanya kepada pengusaha-pengusaha yang memproduksi busa.

Kenyataannya, pihak perusahaan dan penanaman modal di kota Makassar yaitu perusahaan-perusahaan yang memproduksi busa dengan menggunakan  bantuan hibah berupa mesin-mesin pabrik yang tidak menggunakan lagi Clouroflourocarbons menunjukkan bahwa pada umumnya perusahaan yang memproduksi busa belum menggunakan Logo Non CFC pada produk yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena pihak perusahaan belum mengetahui secara pasti letak logo yang akan ditempelkan pada produk busa. Dengan demikian, sosialisasi tentang penggunaan logo bagi produk Non CFC akan terus disosialisasikan hingga akhir tahun 2010. Hal lain lagi yang menyebabkan kesadaran penggunaan logo masih rendah karena kerusakan lapisan ozon yang disebabkan oleh penggunaan Clouroflourocarbons, Halon dan zat-zat lainnya belum secara jelas dipahami karena dampak yang diakibatkannya tidak serta-merta terlihat hasilnya. Hal ini disebabkan karena masih diperlukan pula sosialisasi kepada masyarakat tentang proses dan akibat yang ditimbulkan apabila lapisan ozon di stratosfer mengalami kerusakan.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka menurut Ibu Asnidar pihak Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumapapua melakukan berbagai upaya dalam rangka implementasi perlindungan lapisan ozon terhadap masyarakat yaitu melalui sosialisasi program Perlindungan Lapisan Ozon (PLO) melalui media cetak misalnya penerbitan tulisan menyangkut lingkungan hidup, pencemaran lapisan ozon dan lain-lain dalam Majalah “Serasi” yang diterbitkan oleh Kementrian LH di Jakarta, terbit setiap bulannya. Media lain adalah majalah “Sinergi Hijau” khusus diterbitkan oleh Media Komunikasi Lingkungan Sulawesi, Maluku dan Papaua di Makassar. Sedangkan media elektronik adalah website Kementerian Lingkungan Hidup Sumapapua,com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

PENUTUP

 

4.1   Kesimpulan

Implementasi terhadap Konvensi Wina adalah lahirnya Protokol Montreal 1987 yang secara tegas melarang penggunaan zat-zat berbahaya yang merusak lapisan ozon. Bagi Indonesia pelarangannya mulai berlaku pada tahun 2007 sedangkan untuk zat-zat tertentu seperti hidroklorokarbon pelarangannya akan berakhir pada 1 Januari 2030.

Keputusan Presiden tentang Lapisan Ozon diimplementasikan dalam berbagai peraturan Menteri Perindustrian dan Menteri Negara Lingkungan Hidup kemudian disosialisasikan kepada masyarakat di Kota Makassar khususnya dalam hal penggunaan refrigeran dan pencantuman Logo Non CFC dan Non Halon.

4.2   Saran-saran

a.   Disarankan kiranya pihak Kantor Lingkungan Hidup Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumapapua dapat meningkatkan upaya-upaya perlindungan lapisan ozon melalui sosialisasi yang intensif kepada masyarakat Kota Makassar akan pentingnya perhatian masyarakat terhadap kerusakan lapisan ozon.

b.  Agar lebih meningkatkan lagi pengawasan penggunaan refrigerant melalui pembinaan dan pelatihan yang intensif sehingga bengkel-bengkel refrigerant dapat meminimalisir kebocoran Clouroflourocarbons (CFC) dan Halon yagn terlepas ke udara kemudian mengakibatkan kerusakan lapisan ozon.

c.   Diperlukan efektifitas penggunaan Logo NON CFC dan NON HALON agar masyarakat secara sadar mengetahui barang-barang mana saja yang diproduksi dengan tidak menggunakan Clouroflourocarbons (CFC) dan Halon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

I  BUKU

 

 

Abdurrahman, 1986, Pengantar Hukum Lingkungan Indonesia, Alumni, Bandung.

 

Agus, R dan S. Rudy, 2008,  Global Warming, Mengancam Keselamatan Planet Bumi, WordPress.com.

 

Amsyari, Fuad, 1986, Prinsip-Prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan, Ghalia Indonesia, Jakarta.

 

Danusaputro, Munadjat, 1985, Hukum Lingkungan Buku I Umum, Binacipta, Jakarta

 

Dirdjosisworo, Soedjono, 1991, Upaya Teknologi dan Penegakan Hukum Menghadapi Pencemaran Lingkungan Akibat Industri, Citra Aditya Bakti, Bandung.

 

Erwin, Muhamad., 2008, Hukum Lingkungan, Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, Refika Aditama, Bandung.

 

Hardjasoemantri, Koesnadi., 1995, Hukum Perlindungan Lingkungan, Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnysa, Edisi Pertama, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

 

Likadja, Frans, 1998., Hukum Internasional 1, Binacipta, Jakarta

 

Mauna, Boer, 2001, Hukum Internasional, Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Alumni, Bandung.

 

Rajagukguk, Erman dan Khairandy, Ridwan., 2001, Hukum dan Lingkungan Hidup Indonesia, Cetakan I, Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI, Jakarta.

 

Rangkuti, Siti Sundari., 2005, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional, Edisi Ketiga, Airlangga University Press, Surabaya.

 

Salim, Emil, 1986, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, LP3ES, Jakarta

 

———–, 1985, Lingkungan Hidup dan Pembngunan, Mutiara Sumber Widya, Jakarta.

 

Sastrawijaya, A.Tresna., 2000, Pencemaran Lingkungan, Rineka Cipta, Jakarta.

 

Siahaan, NHT, 2004, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, Penerbit Erlangga, Jakarta.

 

Soedomo, Moestikahadi, 2001, Pencemaran Udara, ITB, Bandung

 

Soemarwoto, Otto, 1991, Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Suparmoko., 2008, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Suatu Pendekatan Teoritis, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta.

 

Supriadi, 2006, Hukum Lingkungan di Indonesia, Sebuah Pengantar, Sinar Grafika, Jakarta.

 

Usman Rachmadi., 2003, Pembaharuan Hukum Lingkungan Nasional, Citra Aditya Bakti.

 

 

 

II Dokumen

 

Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

 

Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Pengesahan Viena Convention For The Protection of The Ozone Layer dan Montreal Protocol on Substances That Depeleted The Ozon Layer as Adjusted  and Amanded by The Second Meeting of The Parties London, 27-29 June 1990.

 

Keputusan Presiden Nomor 92 Tahun 1998 Tentang Pengesahan Montreal Protokol tentang zat-zat yang Merusak Lapisan Ozon, Copenhagen, 1992

 

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Nomor 02 Tahun 2007, tentang Pedoman Teknis dan Persyaratan Kompetensi Pelaksanaan Retrofit dan Recycle  pada system Refrigerasi.

 

Peraturan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan RI Nomor  789/MPP/Kep/12/2002  tentang Perubahan Kepmendag RI No.!11 dan 230 tentang Barang yang diatur Tata Niaga Impornya.

 

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor  33 / M-IND/PER/4/2007 tentang Larangan Memproduksi Bahan Perusak Lapisan Ozon.

 

Peraturan Menetri Perdagangan RI Nomor  24/M-DAG/PER/6/2006 tentang Ketentuan Impor Bahan Perusak Lapisan Ozon

 

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor  86 / M-IND/PER/11/2008 tentang Petujuk Teknis Penggunaan dan Tata Cara Pengawasan Logo NON-CFC dan NON HALON&NONCFC

 

Unit Ozon Nasional Kementerian Negara Lingkungan Hidup., 2007,  Kumpulan Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Lapisan Ozon. Edisi  4, Jakarta.

 

 

III Makalah

 

Pattileuw, Alma., 2001, Ozon Layer Depeleted, Makalah : Bahan Kuliah Hukum Lingkungan Internasional,  Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin,  Makassar.

 

IV Lain-Lain

 

http://tykronisilius.wordpress.com, (Online) diakses tanggal 9 Mei 2010

 

http://commons.wikipedia.org, (online) diakses tanggal  9 Mei 2010.