Tugas Mata Kuliah    :SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM)

D o s e n                     :Muhammad Firdaus, MBA, Ph.D

 

Makalah :

FTA ASEAN – CHINA  DAN  DAYA SAING INDONESIA

Bukti bahwa Indonesia masih berada di Era  Pertanian dan Industri

 

 

Oleh  : HARRY KATUUK

NIPM  : 200902055

Jurusan  : MSDA

 

Tulisan ini belum pernah diserahkan sebagai tugas mata kuliah apapun, Tulisan ini merupakan karya asli saya dan bukan salinan sebagian atau seluruhnya dari karya penulis lain. Jika saya menggunakan pendapat penulis lain maka nama penulis tersebut dicantumkan dengan jelas dalam teks dan dalam daftar pustaka. Jika ditemukan saya melanggar pernyataan ini, maka saya bersedia menyerahkan makalah penganti dalam waktu 5 (lima) hari sejak pelanggaran tersebut disampaikan kepada saya

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

STIA LAN RI  MAKASSAR

MEI 2009

DAYA SAING INDONESIA TERPURUK

KARENA CHINA – ASEAN FTA

Bukti bahwa Indonesia masih berada di Era  Pertanian dan Industri *)

Oleh : HARRY KATUUK **)

 

  1. PENDAHULUAN

Pada tanggal 20 Oktober 2009,  Presiden RI terpilih  Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Prof. Dr. Budiono  dilantik oleh Ketua MPR untuk masa tugas 5 tahun ke depan.   General program lima tahun ke depan adalah tekad Presiden untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat (Kompas, 21 Oktober 2009) untuk itu Presiden mengingatkan agar rakyat Indonesia untuk terus melangkah maju, rukun, dan bersatu menghadapi tantangan pada masa mendatang, dan Bangsa Indonesia juga diminta untuk tidak lemah, lalai, dan besar kepala menghadapi situasi dunia yang masih dilanda krisis.

Belum cukup 100 hari pemerintahan SBY-Budiono, muncul ASEAN – China Free Trade Agreement (FTA), suatu perjanjian perdagaangan bebas  antara Negara-negara ASEAN dengan China  yang pada tahun 2010 ini akan melibatkan enam Negara ASEAN yaitu Brunei, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Indonesia. Pada tahun 2015, FTA akan melibatkan anggota lain yaitu Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam (Fajar, 7 Januari 2010)

Perjanjian FTA ini mengejutkan (karena tidak ada sosialisasi kepada masyarakat Indonesia) Dengan perjanjian internasional ini seolah-olah bidang pertanian dan Industri akan ambruk  karena daya saing kita kurang menguntungkan dalam peningkatan kesejahteraan rakyat seperti yang dicanangkan oleh SBY-Budiono.  Diduga akan terjadi pemutusan hubungan kerja di pabrik-pabrik andalan, komoditi pangan akan mubasir (tidak laku) karena masuknya produk-produk murah dari China,  akibatnya kita terpuruk, tak berdaya menghadapi China.  Dengan asumsi tersebut terbukti bahwa  future shock nya Toffler mengindikasikan Indonesia masih berada di era  Gelombang I dan II yaitu Pertanian dan Industri karena penguatan sistem dan mekanisme pertanian dan industri masih memerlukan perhatian  utama guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

 

 

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*) Tugas Mata Kuliah SIM, dosen : Muhammad Firdaus, MBA, Ph.D

**) Mahasiswa Pascasarjana STIA LAN RI Makassar Semester II Jurusan MSDA

Dalam hal teknologi informasi, sangat terbatas masyarakat yang memanfaatkan informasi sebagai sarana memenuhi kebutuhan kesejahteraan rakyat. Teknologi informasi hanya digunakan oleh mereka yang mampu (kaya) dan bagi masyarakat biasa teknologi informasi hanya digunakan sebatas memenuhi kebutuhan komunikasi sehari-hari.  Memang betul teknologi informasi tersebut merambah keseluruh Indonesia, namun sekali lagi hanya sebatas komunikasi biasa untuk mendapat informasi dari pihak lain.

 

  1. FAKTA INDONESIA BERADA PADA ERA PERTANIAN DAN INDUSTRI

Alfin Toffler (http://ksklh.blogspot.com) merupakan seorang futuris yang mencoba memberikan penjelasan tentang masyarakat dunia di masa datang dengan pemikiran tentang  future shock (kejutan masa depan) melalui suatu perubahan yang disebutnya dengan Gelombang Pertama, Kedua dan Ketiga. Suatu masyarakat yang sedang dilanda oleh dua atau lebih gelombang perubahan dan belum jelas yang mana yang dominan maka citra manusia  masa depan itu akan retak.

Fenomena keretakan ini terlihat dalam masyarakat Indonesia.  Bahwa Indonesia  sesungguhnya masih berada pada era Pertanian dengan fakta :

  1. Sebagian besar penduduk Indonesia masih menggarap lahan pertanian karena areal lahan masih memungkinkan untuk digarap dan menghasilkan hasil pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat setempat. Seingat penulis Indonesia pernah swasembada pangan di era Pak Harto. Beras kita di eksport ke negara lain guna memenuhi kebutuhan mereka dan kita mendapatkan keuntungan dan pujian dari negara-negara lain. Di dalam negeri beras hanya Rp. 2000 perkilo.
  2. Walaupun pembangunan perumahan rakyat merambah ke berbagai desa dan pinggiran kota (yang semula lahan pertanian), namun harus pula diakui bahwa kaum transmigran membuka lahan di hutan-hutan tropis dalam jumlah yang cukup besar (Lihat Kabupaten Luwu Utara dengan lahan Kepala Swait yang beribu-ribu hektar).
  3. Dalam rangka pengembangan   areal pertanian, pemerintah mengembangkan dan membangun bendungan-bendungan untuk kebutuhan irigasi sehingga pada daerah sekitar bendungan selalu terjadi panen sepanjang musim tanam.
  4. Walaupun masih menyontek bibit unggul dari Thailand, namun varietas padi lebih berkualitas dan tahan hama.

Fakta ini menunjukan bahwa pertanian masih menjadi andalan dalam mensejahterakan rakyat, walaupun harga beras signifikan mengikuti jutaan mulut yang membutuhkannya.

Harus diakui bahwa Toffler benar ketika mengatakan First Wave is the society after agrarian revolution and replace the first hunter-gatherer cultures. (http://www.alvintoffler.net).  Adanya perubahan paradigma masyarakat dari hanya berburu dan mengumpulkan hasil bumi menjadi lebih produktif melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Sejalan dengan itu berkembang juga mesin-mesin, pabrik-pabrik dan sarana teknologi penghasil pangan dan papan manusia yaitu era Industri. Mau tidak mau Indonesia juga mengalami era ini. Dan menurut penulis kita juga masih sementara mengalami era industri karena kebutuhan pekerjaan.

Bukti bahwa Indonesia juga masih berada pada Era Industri

  1. Banyak pabrik-pabrik rokok yang menggunakan teknologi tradisionil  melinting rokok yang dilakukan oleh puluhan ribu pekerja.
  2. Pabrik-pabrik tekstil juga dengan ciri khas budaya (batik) juga mempekerjakan ribuan pekerja, termasuk pengusaha sepatu-sendal di Cibaduyut – Bandung yang terkenal itu.
  3. Banyak juga pabrik-pabrik elektronika di kawasan Tangerang yang sanggup memberikan nafkah kepada buruh dan karyawannya.

Yang jelas industri senantiasa dikembangkan mulai dari bahan baku, ke bahan jadi, kemudian menjadi bahan bagi industri kecil dan diharapkan menjadi industri besar. Ini menurut konsep Pak Harto. Di era ini Indonesia banyak bekerjasama dengan negara-negara lain dalam mengembangkan elektronika, tekstil dan lain-lain. Namun karena sinyalemen “ekonomi biaya tinggi” banyak perusahaan lari ke negara lain, misalnya  tahun 2005 perusahaan internasional SONY – Jepang  hengkang ke Vietnam.

 

  1. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

Penyebab Indonesia masih pada Gelombang Pertama kerena jumlah penduduk  sekitar 250 jutaan yang  sebagain besar bermukim di pedesaan dengan pekerjaan utama bertani. Ini memungkinkan karena lahan pertanian juga mendukung pekerjaan sebagai tani, walaupun akhir-akhir ini banyak penduduk yang berurbanisasi mencari pekerjaan yang layak, terutama berurbanisasi ke tanah Jawa.

Indonesia masih berada pada era Industri dan belum beralih ke Gelombang III karena belum memenuhi syarat-syarat untuk masuk kegelombang informasi. Syarat untuk masuk dalam Gelombang ketiga   menurut Toffler  (http://www.alvintoffler.net) :

  1. Bahwa tujuan utama gelombang kedua adalah penggunaan nuklir. Faktanya teori nuklir hanya sebatas teori di Perguruan Tinggi. Takut dipraktekkan karena ketakutan akan akibat negatif yang ditimbulkan. Nuklir menurut hemat penulis adalah rekayasa fisi atau fusi elektron-elektron Uranium  yang dapat menghasilkan tenaga berlipat ganda. Teknologi ini memerlukan pengetahuan khusus yang mungkin 10 tahun kedepan baru dapat di realisasikan  oleh Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).
  2. Pengembangan  sistem pendidikan kepabrikan  masih bersifat tradisional dan masih sebatas industri kecil dan menengah. Penulis pernah ke Cilegon – Banten melihat Pabrik Baja di sana, ternyata baja-baja lempengan hanya diperuntukkan bagi pembangunan jembatan, dinding kapal dan besi beton bangunan rumah. Untuk kebutuhan pabrik kapal kita masih diperlukan pengetahuan kemaritiman dan dibutuhkan pula sistem pembelajaran untuk membuat kapal canggih (seperti kapal Oasis on The Seas) yang berdek /lantai 16 dan dapat menampung sebanyak 6000 penumpang.  PT PAL hanya membuat kapal-kapal tug boat (penarik/pendorong kapal di pelabuhan).  Fenomena lain, bahwa sesungguhnya IPTN dapat mengembangkan pesawat CN 235   atau helikopter BO 105, namun setelah Pak Harto jatuh dan Pak Habibi lengser maka nasib karyawan dan tenaga ahli IPTN menjadi tak menentu. Sayang investasi ilmu yang telah ada tidak dimanfaatkan.
  3. Kerjasama dengan Negara-negara maju masih dalam wacana. Contoh kerjasama dengan KIA Motor Korea, menguap entah kemana dan berakhir dengan mundurnya Korea dalam pengembangan mobil Timor.

Keinginan Toffler agar industri akan menghasilkan barang-barang produksi besar-besaran, kemudian akan didistribusikan secara besar-besaran dengan  harapan akan dikonsumsi secara besar-besaran pula  ternyata tidak dapat dipenuhi oleh Indonesia. Yang terjadi adalah negara-negara lain justru lebih dapat mengembangkan keinginan Toffler dan memproduksinya secara besar-besaran, kemudian mengirimkannya ke Indonesia, dan di Indonesia menjadi masalah ketenagakerjaan.

Inilah penyebab sehingga ketika China melalui FTA masuk ke Indonesia, maka terjadilah penolakan akan produk China yang murah meriah dan berkualitas. Kondisi ini akan menjadi efek domino terhadap perekonomian Indonesia, terutama menyangkut pemutusan hubungan kerja akibat dari pengurangan atau penghentian produksi (Apsiannor Masrie, Tribun Timur, 7 Januari 2010).  Lebih lanjut Aspiannor Masrie mengatakan bahwa Globalisasi dengan cara FTA cenderung melahirkan kondisi ketidakpastian dan ketidakpuasan yang melahirkan kemiskinan dan ketidakadilan. Sebelumnya memang produk China telah membanjiri pasar Indonesia,  sebut saja tekstil misalnya menguasai 50 persen pasar dengan harga yang jauh lebih murah atau 10 persen dari produksi lokal. Akibatnya tekstil produk lokal mengalami penurunan omset yang akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja dengan tenaga kerja Indonesia. Senada dengan itu (Harian Kompas, 7 Januari 2010)  Koordinator aksi demo yang menuntut penundaan FTA, Roy Jinto Ferianto, di Bandung mengatakan jika perdagangan bebas (FTA ASEAN-China) dilanjutkan maka nasib sekitar 2,5 juta buruh di Jabar terancam di PHK. Buruh Jabar yang kebanyakan bekerja di pabrik tekstil yang paling merasakan akibatnya.

Dengan pemberlakukan FTA ASEAN-China  menunjukan kepada kita bahwa Indonesia  sangat sulit untuk bersaing dengan negara lain sehingga kemungkinan akan terjadi bahwa kemampuan daya saing kita akan lebih terpuruk dari tahun 2006 dan 2007 seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

 

 

Berdasarkan permasalahan daya saing menurut Tabel di atas menunjukan bahwa Indonesia pada tahun 2006 berada pada urutan 52 dari 55 negara dan pada tahun 2007 terpuruk pada urutan 54 dari 55 negara.  Dengan pemberlakuan FTA mungkin pada tahun 2010 Indonesia akan terlempar dari 55 negara tersebut di atas. Memang, sangat diperlukan terobosan-terobosan untuk meningkatkan daya saing dalam rangka menyukseskan general program SBY-Budiono yaitu kesejahteraan rakyat dan menurunkan kemiskinan.

 

  1. SOLUSI

Dalam upaya menjamin keikutsertaan Indonesia dalam FTA ASEAN-China maka kualitas ketenagakerjaan di Indonesia harus semakin meningkat. Keinginan untuk menjadi PNS harus diminimalisir dan memaksimalkan usaha kewirausahaan. Menghapuskan image untuk menjual sawah/lahan di kampung untuk menukarnya dengan teknologi (misalnya sepeda motor, komputer, dll) yang sesungguhnya tidak produktif.

Ekonomi biaya tinggi harus diberantas, dalam arti pungutan-pungutan tidak sah yang dilakukan oleh aparat harus dibasmi, naikan gaji aparat agar ia tidak melakukan pungli yang menyebabkan mahalnya produk dalam negeri.

Kepastian hukum harus mendapat jaminan dari pemerintah dan masyarakat sehingga investor mau berinvestasi. Kasus Sony-Jepang jangan terulang lagi, dan rekayasa teknologi antara Indonesia dengan Korea (Timor gate) tidak terjadi lagi

Lemahnya publikasi dan promosi dagang dan industri harus dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi. Bahkan teknologi informasi itu menjadi roh bagi kemajuan pribadi, maupun kemajuan bangsa.    Harus diakui bahwa sebagian Negara berkembang masih mengandalkan komunikasi interpersonal dalam aktivitasnya sehari-hari seperti kata Brian Maynardo (a67532.wordpress.com), bahwa hal yang berbeda dengan AS, di setiap rumah tangga, kantor, sekolah sudah menggantungkan hidupnya pada internet, telepon seluler, laptop, PDA dan lain sebagainya. Di sana komunikasi dengan menggunakan peralatan demikian adalah sesuatu yang wajar dan menjadi bagian dari aktivitas yang hidup dan profesi yang memang membutuhkan kecepatan dan menurut McLeod (2001:145) sebagai ketepatan waktu, bahwa informasi harus tersedia untuk memecahkan masalah.

 

  1. PENUTUP

Walaupun menurut penulis bahwa Indonesia masih dalam era pertanian dan industri, namun penulis juga melihat bahwa kemajuan teknologi dan informatika sudah merambah ke tengah-tengah masyarakat. Ada paham baru menyangkut hal ini ialah komunikasi lewat teknologi sangat mempengaruhi pengetahuan, cara berpikir dan tingkah laku kita. Informasi yang sedemikian cepatnya membuat teknik berpikir manusia semakin sederhana dan mudah.

Untuk itu, maka seyogiaya sistem pertanian dipadukan dengan teknologi pertanian yang tepat guna, terlebih industri selayaknyalah menggunakan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas barang sehingga mampu berdaya saing dengan produk sejenis.  Dengan sistem pertanian yang tangguh yang ditopang oleh sistem industri yang memiliki daya saing diharapkan Gelombang Ketiga-nya Toffler secara perlahan-lahan tapi pasti membawa bangsa Indonesia mencapai kemajuan untuk mensejahterakan rakyat dan memberantas kemiskinan.

Masalah FTA ASEAN-China jangan ditunda melainkan dilanjutkan dengan penguatan SDM yang berkualitas melalui pendidikan dan peningkatan keterampilan rakyat sesuai bidang tugas dan pekerjaannya.

Daftar Pustaka

 

McLeod, Raymond Jr., 2001, Sistem Informasi Manajemen, Jilid I, PT Prenhalindo, Jakarta.

IMD, 2007

Harian Kompas, 4 Januari 2010, FTA dan UU Perjanjian Internasional.

———-., 7 Januari 2010, FTA ASEAN-China, Terancam Mengnggur, Pekerja Tekstil Protes,

Harian Fajar, 7 Januari 2010, Pendidikan Kejuruan dan China-ASEAN FTA

Harian Tribun Timur, 7 Januari 2010, Globalisasi atau Gombalisasi.

http://www.alvintoffler.net Alfin Toffler, His Ideas

http://ksklh.blogspot.com Makna Historitas Alvin Toffler tentang Peradaban Manusia yang akan datang

http://a67532.wordpress.com Pengaruh Media terhadap Perkembangan Teknologi Komunikasi